puisi


Ceracau sunyi senja hari

setelah mengokang mimpi

aku wudlu dipancuran sepi

kugelar sajadah di bawah senja

makmum pada segala semak yang ada tanpa mengapa

kurapal putus asa lewat igauan doa

lalu kutengadahkan tangan dan hatiku

setelah sebelumnya

menyambangi palung paling pilu dari bumi

dan meracau salam pada rakib atid

Gusti, aku butuh api

tak perlu abadi

agar bisa kubakar nasi

untuk membaca hari yang tak selalu rapi

malam ini

Advertisements

; sepi.

aku hanya ingin menceritakan hari

dengan jempol yang tak begitu lincah menari dia atas tuts komputer

dengan doa yang kaku terlafalkan

dan secarik mimpi yang terabai

kemudian

kuketuk alamat jenak

dengan sisa kata yang tersia

tok tok tok; sepi.

 

The last prayer’s of pretender

 

aku purapura tak keberatan kau diam

lantaran diam bukan sinonim bisu

ketakmampuan memverbakan segala atau sejenis phobia apa

            tak ada apa-apa

            menunggu jawaban kau bilang

            tak ada pertanyaan  kujawab

            menanti yang tak datang  kau geram

            tersesat aku diam

 

aku purapura tak keberatan kau diam

sebab sejak awal mula akulah pencerita

darimu titik seringnya tanda tanya

atau senyap kadang kala

kupilih bedak termahal untuk senyap itu;

tertawa untuk sebuah ceruk luka

berpura-pura kau ada, mengudara, mengisi sebelah paruku

 

aku purapura tak keberatan kau diam

hingga hanya tersisa doa

pada tuhan yang merahimi

semoga ia tak lupa

pada episode ‘Tersesat di Langit Bersama’

 

aku tak keberatan kau diam

sekalipun mesti kukecap samudra putus asa dengan rasa amnesia

sekalipun aku tak bisa berpurapura untuk kehilangan

siapapun lagi

 

Kamar Pesakitan

inilah benang yang disajikan pada kita

sepret kentut sepegal mesra selarit komedi  segaruk gatal

semampat pengap sedebu abu yang

merumbai

Rumah Remah Hujan

 

aku merindu rumah remah hujan

pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan

yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan

bersama merenangi kali pasi dalam sendiri

sendiri merenungi ceruk kerut maut

waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran

apakah bengkah di atap gedung jangkung

gereja blenduk, jembatan ambrol

atau rumah cebol milik kami

 

TEESS!TRETESS!!!

(more…)

Semoga Lekas Sembuh

 

untuk sehidup yang tak seberapa lama

aku dengar kepahitan

dari dia yang hanya bungkam

karena luka meruyak di kepala

menjelma lubang dengan lidah bercabang

menjilati per tetes darah

menelan sukma dalam sekali suapan

 

dan dia hanya bungkam

meretas selamat datang

entah dari maut atau dari hidup

pada titian benang dengan beban yang bukan barang

 

*memori terapi bara api di klinik pak Sayuti

Sepatah Kupukupu

malam itu, sobat

kukirimkan kupu

yang hinggap di jejala lapangan gergasiku

hanya ada cicicuit lombok ijo cicicuit lombok abang

minus sang kriting

sebab tebal kulitnya menyerupa landak di lidah

menusuk dan mati rasa

karena bijinya membeling menderes mata

(more…)

Next Page »