barangkali


LPM IAIN; LEMBAGA PELAWAK MAHASISWA

NKK/BKK rasanya mulai diberlakukan kembali di IAIN saya tercinta. Ssst!!! Jangan bilang-bilang. Ini baru kalangan terbatas yang tahu. (more…)

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya
W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
dan juga masa depan kita yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan

Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita
karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
suka duka kita bukanlah istimewa
karena setiap orang mengalaminya
hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samudra
serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas
karena tugas adalah tugas
bukannya demi surga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia
karena sesungguhnya kita bukan debu
meski kita telah reot, tua renta dan kelabu

Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapuskan
lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda
dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi dan juga nasib kita

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara
bukan karena senyuman adalah satu kedok
tetapi karena senyuman adalah satu sikap
sikap kita untuk Tuhan,
manusia sesama, nasib dan kehidupan

Lihatlah sembilan puluh tahun penuh warna
kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma
kita menjadi goyah dan bongkok
karena usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan karena kita telah terkalahkan

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kamu kenang encokmu
kenangkanlah pula bahwa kita ditantang seratus dewa

Saya mendengar rendra membacanya dan seketika itu mata kanan menitikkan setetes air mata. Hanya satu. Karena yang seribu telah saya cicil malam lalu. Ketika saya tidak bisa memberi senyum untuk senja. Ketika saya luar biasa lelah. Bahkan untuk bermimpi. (more…)

Menyelami Nama Diri

Rakkaustarina. Jadi ingat novel kedua pak jamal (novel pertama juga, ding,). Lumayan membosankan. Maksudnya, Pak Jamal luar biasa sabar. Wong yang baca aja bosen, gimana nulisnya,ya? Bukan apa2, sebab novel ini jadi keliatan ngiklanin Finlandia, negaranya Nokia dengan seribu saunanya. Dan sejahteranya.

Ada yang menarik buat saya, Fifay. Hehe… bukan apa2 juga sih, Cuma dikit kesentil. Harap diketahui sebelumnya bahwa saya menamai diri fay bukan disebabkan karakter bikinan Pak Jamal itu (sekalipun ada kemiripan nasib), tapi murni karena si Tyo. Tapi kalo Tyo manggil saya karena fiFay? Tambah ngga mungkinnya, sekalipun dia baca lousiana-lousiana yang terbit di tahun 2003? Yak. Sebab kami masih SMP, dan lulus SMP tahun 2002. Jika demikian, berarti yang njiplak Pak Jamal, dong? Bisa jadi. Tapi saya ngga pengenmemper -panjang perdebatan soal nama. Yang mau saya bahas adalah ekspektasi manusia atas sesuatu yang bukan apa2nya. (more…)

Heboh MUSMAJU

Lagi hebring pemilu kampus. Pesta demokrasi di kampus. Sekarang IAIN semarang mo punya hajatan demokrasi. Tapi menurut sumber yang bisa dipercaya, system kali ini beda. MUSMAJU. Dengan segala ketentuan yang konon dipegang kajur (ketua jurusan). Menurut Nay, reporter yang ditugasi membedah perubahan system, hal ini lumayan baik. “itung2 memberi tugas kajur yang selama ini ngga jelas ngapain kerjanya”. Pendapat ini mendapat sanggahan yang agak menyimpang. Bahwa jika semuanya harus atas persetujuan birokrasi kampus, maka hak mahasiswa untuk belajar demokrasi hilang. (more…)

 

Menghidupi Masa Lalu I

Bese dan anaknya mati. Berita basi. Tapi emang ini ditulis pas lagi marak2nya Bese alm. masuk tipi. Pas hari itu juga aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kebaikan seorang teman. Dia hanya buruh pabrik suatu perusahaan konveksi dengan gaji tak lebih dari setengah juta sebulan. Bapknya nganggur. Masnya hanya menjadi tukang sapu di kantor polisi dengan bonus perlakuan sangat tak menyenangkan. Ibunya membuat tempe. Adiknya masih sekolah. Keluarga kecil yang sesungguhnya. Dengan postur tubuh yang ceking. Bias bayangkan seseorang dengan tinggi 155 bertanya berkisar antara 30-35 Kg, tergantung kondisi kesehatannya. Rumahnya? Ngga akan nyanga dengan keadaan seperti itu dia bisa beramal kepada banyak teman yang ‘membutuhkan’. Setiap minggu gajian,, pulsa sepuluhribu dari semua operator dia kirim ke teman2nya seindonesia raya. Setiap Sabtu. Saran saya, janganlah kalian melihat rumahnya, sebab nanti akan timbu iba yang sangat. Cagaknya yang menghitam termakan masa keliahatan ringkih, wuwungannya rendah. Kusam. Tapi hati keluarga ini benar2 luar biasa mulia. Meski hanya pulsa. Seandainya tetangga Bese ada yang serupa tiwi, sahabat saya ini, maka alm. tidak akan setenar ini usai meninggal, sebab konon, daerah Bese adalah daerah lumbung padi. Apa lagi pemerintah mau seroyal tiwi, ngga ada yang kelaparan, harga2 ngga bakal naik, pendidikan gratis..tis..tisss

AMBIVALENSI

Apa yang dipikirkan dhani tentang management republic cintanya(MRC)nya? Wabilkhusus jeng Mulan Jameeeeeeeela. Konsepnya sih iya timur tengah bo’. Tapi tunggu dulu. Konsep yang mana nih? Kayaknya keseluruhan deh. Ya musiknya, ya kostumnya, ya rokok yang kayak teko itu, ya….

Kostum? Itu bukannya kostum punya India, ya? Indianya shahrukh khan to? Yang keliatan udelnya, yang kerudung tipis dan berkibar-kibar kayak bendera plus full colour gitu itu? Emang India yang itu masuk timteng? India yang itu mah masih tetangga kita kali. Di Asia-asia juga, kamu lurussss, trus belok kanan. Tunggu lampu merah dulu. awas ada pak polisi! Kalo konsepnya ratu timur tengah, kenapa ngga pake CLEOPATRA sekalian? Yang tanggung2 kayak gini jadi kayak kodok. Dipermalukan mahluk darat, tapi malu masuk ke air. Jadi deh sang kodok duduk diem dahar di atas daun.Barangkali mas jenggot ini ngga liat atlas, liatnya, bagian mba mulan yang mana yang bisa di jual? Udelnya kah? Jarang-jarang kan orang Indonesia pamer udel? Tapi kalo mau pamer undel kok ya ditutupi? Malu kali, ada gelambirnya. Pernahkan kamu memperhatikan bagian perut mulan pas dia turun dari tangga berkostum emas, sobat? Ada kan gelambirnya. Saya ngga bohong. Kalo nga percaya, beli aja. Tapi yang bajakan. Jangan yang asli. Sayang . wong hampir semuanya REMAKE. bedanya cuma ada desah. ini kali yang dijual.

Inilah yang akan kita bahas. Ambivalensi. Menurut kamus popular terbitan LINTAS MEDIA, ambivalensi artinya kebingungan dalam menentukan dua perasaan yang tiba-tiba muncul. Perasaan bertentangan. Sudah tahukan, sobat? Kalo belum (konfirmasi sekaligus persuasi) akan kita coba bedah disini.

Dulu dhani melarang MAia pake rok mini, itu jauh sebelum ada issu PIL dan WIL. Dan maia mensiasatinya dangan stoking jarring, sodara-sodari. Nah lo!!! Sekarang, gandeng yang indah dari mulan harus ditutup, (tutup yang seperti apa dulu? dalam islam, apa lagi sufisme yang ditaati dhani, tutup itu ya, tebel, ya longgar. Bukan tebel tapi rapat. Kaya lemper aja nantinya) maka harus ada taktik lain untuk memuaskan hasrat (hasrat siapa hayooo) su’udzan saya, sobat cukup cerdas untuk hal ini. Maka tidak perlu kita bahas.

Kita lanjut, dhani bingung, apa mau pake metode sufisme atau menuruti pasar? kalo pure pasar oriented, barangkali mbah Habib yang dari Amrik kontak dhani dan nyuruh istighfar beryuta-yuta kali. kalo sufisme? malu dong. Bisa2 penjualan mulan kalah sama mba Maia. Nah akhirnya, jadilah itu album MUALAN JAMEELA= orgasme Gandhi (pake huruf kecil aja biar ngga nyolok). Sufisme berbalut sensasi gimannnEEE gitu. Lha mau gimana lagi? Mungkin beliaunya bingung sampai bisa -bisanya berkilah, ah itukan dunia panggung? Lha dia lupa kali sama WORLD IS A STAGE, dunia itu panggung sandiwara. Barangkali juga seeeh

NGGA DA MATINYA!

Itu kalimat paling pas untuk episode Cerita mereka. Masih ingat dong goro-goro Dhani minta Maia milih ratu ato keluarga? Sampai bang jenggot ini ngadu ke presiden. Presiden mana yak? Bukannya dia udah jadi presiden Republik Cinta? Yangga lah. Bang jenggot ini ngadunya ke bapak SBY, presiden Kita, presiden Republik Indonesia raya yang merdeka. Apa abang satu ini ngga inget pak SBY punya 250 juta abang2 lainnya? Sungguh terlalu!!1 Dan, jangan lupakan tandingan Maia tentang issu kekerasan dalam rumah tangga! Dhani yang selingkuh (atau sebaliknya, Maia yang punya PIL). Sampai m(W)ulan mensomasi karena kerkacauan honor? Belum cukup sampai di situ, ketika Maia mengganti ratu dengan (yang tadinya dengan embel-embel yang menurut saya lebih keren dengan ini MAHA) MAIA. Ternyata saudara-saudari. Masih ada gossip yang tergres (saat tulisan ini dibuat) bahwa mba Maia memplagiat AKU MAU MAKAN KU INGAT KAMUnya Ririn S ato Dina Mariana yang ngetop era 80an.

Coba simak ke duanya, dan rasakan bedanya (korban iklan nih,yee). Lha emang beda banget. yang namanya menjiplak dan bias diajukan ke HAKI (hak atas kekayaan interlektual) terjadi adalah yang punya kemiripan sebanyak delapan bar (saya sendiri kurang tahu BAR ini artinya apa. Yang tahu, kasi tahu dong!!!). rasa-rasanya Maia dengan pendidikan dan kreasinya tahu mana yang memalukan mana yang membanggakan.

untuk perkara album, manalah mungkin ia bersedia memperolok diri dengan memplagiat. wong di dipan mbah Dhani aja ngga mau, apa lagi ini? poin yang ia bilang sebagai pembuktian kepada dunia bahwa mba cantik satu ini bias berkata BISA? Malu dong kalo udah katakana Bisa lau ditambah MAAF.

Mari kita telisik dengan metode barangkali. Mungkin ngga ini adalah kasus buatan Dhani untuk merong-rong kehidupan Maia. Bisa aja kan dani menganut filsafat kalo gagal sebagai suami istri kenapa ngga bias sebagai kucing dan anjing?

Tapi kalo dilihat, eh, didenger, ding. Lagu EGP (emang gue pikirin) ada mirip2nya sama elevation-nya U2. tapi reffnya tox. Namun, mari kita agak sedikit melunak. Artinya berdiri di sisi yang wajar. Ngga Dhaniholic banget ato Maiaersmania. Kalo dianalogikan kerja Mai dengan editor yang menyatukan penggalan tulisan jadi karya baru. Penggalan-penggalan itu tak menjadi karya tanpa tangan yang merangkai.

Next Page »