LPM IAIN; LEMBAGA PELAWAK MAHASISWA

NKK/BKK rasanya mulai diberlakukan kembali di IAIN saya tercinta. Ssst!!! Jangan bilang-bilang. Ini baru kalangan terbatas yang tahu. Cerita bermula ketika rekan-rekan saya, termasuk saya sibuk mengurus berkas untuk apply beasiswa. Yang menurut edaran, untuk yang mahasiswa berprestasi dan aktivis. Dan ketika hendak mencari surat rekomendasi dari LPM yang saya titipi ideologi, saya melihat selembar kertas, semacam juklak tentang berapa alokasi rupiah untuk masing-masing organisasi mahasiswa. Di bagian bawah sudah terlukis dengan mewah tapak asto sang ketua dengan dihantamkannya cap sakti mandraguna, SEMA. Di situ lengkap, mulai dari UKM yang mencetak penerbang-penerbang handal UKM terbangan, sampai pekerja teater, dari Hima yang sudah eksis dan terlihat hasilnya sampai Hima yang baru ada ucapan selamat lantaran baru terbentuk. Dan tak lupa tentu saja SEMA yang mendapat jatah hampir dua kali dari organisasi yang lain. Tapi ada satu yang kurang, dan ini paling penting menurut saya. Mungkin mata saya kurang awas dan melewatkan satu baris, saya ulang lagi dari atas. Sampai tiga kali lho, saya mengulangi. Memang Edukasi tidak dapat jatah. Apa-apaan ini? Bukankah LPM adalah juga UKM dan itu di bawah naungan SEMA? Saya konfirmasi ke Pimred majalah, ternyata mamang sudah begitu adanya. Jika Edukasi pengen dapat jatah begituan, konsekuensinya adalah setiap mau terbit, apapun itu bentuknya dari yang kelas jurnal sampai buletin wajib setor dulu ke pendek (saya lebih suka istilah ini ketimbang pembantu dekan/PD) atau perek (saya lebih suka istilah ini ketimbang PR). Kalo yes, silaken ke percetakan, kalo ada yang tidak sreg, ah, nanti dulu. Lhadalah, emang berita bisa ditahan, bos? Kode etik jurnalistik macam mana ini? Bukankah kewajiban jurnalis hanya kroscek kepada yang bersangkutan. Ada urusan dengan pendek, kami mendatangai kantor beliau, dengan pak rektor juga demikian. Prosedur dasar yang tidak pernah kami lewatkan. Dan itu cukup. Lha ini kok kudu estafet dulu ke birokrasi. Saya jadi ingat mantan Pimred Jurnal, Mbak Sata, yang harus njiwit adeknya biar dibilang ayu, dan jiwitannya makin keras kalau si korban masih berani bilang elek. Tapi tentu saja saya ingat, konteks mbak sata cuma dalam kerangka guyon.

Dan, saudara-saudara, menurut Pimred majalah tadi, perkara ini sudah ketok palu, dan itu tanpa sosialisasi! Bukan main! Batin saya. Makanya saya bilang, hanya kalangan terbatas yang paham perkara ini. Rencananya kita mau mengadakan audiensi, katanya lagi.

Yang lebih menyedihkan adalah itu mendapat persetujuan SEMA, yang dulunya bernama BKM (mungkin di PT yang lain masih BKM, hal ini barang kali karena kami sangat patuh pada aturan). Kawan-kawan SESAMA kami luar biasa tega. Bukan mau bangga atau sombong atau apa, lha wong ketuanya saja anggota Edu, kantornya numpang hall Edu setelah dulu berunding dan itu disertai insiden kehilangan kabel data pula. Mau dikabulkan gimana, mau ditolak juga gimana. Itu dulu. Sekarang, kalau ditanya ikhlas, pertanyaan itu sudah tidak relevan lagi, alias keburu basi, wong kapling sudah ditempati kok masih bilang tidak rela. Permasalahannya, ini tentang solidaritas dan kebebasan. Jika SEMA yang adalah lahan latihan para mahasiswa menjadi pemimpin saja tidak memiliki keberpihakan pada kebebasan mahasiswa, bagaimana yang dengan mahasiswa yang siklus kuliahnya cuma kampus-kos-kakus? Adakah solidaritas dan segala atribut yang sepantasnya dilekatkan pada pundak mereka telah tergadai dengan nominal juklak? Saya cuma bisa ber-masyallah innalillahi saja, hasrat ngencingin ketuanya masih bisa saya tahan. Dan saya berusaha khusnudzon saja, bisa saja mereka sangat paham tentang dalil Qur’an, laa ta’kulu amwalakum bainakum bil bathili illaa an takuuna tijarotan. Janganlah kamu memakan harta orang lain dengan jalan kajahatan, kecuali jalan jual beli. Permasalahannya kan yang jual beli itu mereka dengan mereka, bukan mereka dengan kami. Apa untungnya bagi SESAMA kami itu? Ah, rasanya kok sulit, lebih gampang bersu’udzon, toh, nanti bisa istighfar. Menyakitkan sekali dihianati SESAMA yang dulu saling menjaga. Barangkali benar kata Cak Nun, bapaknya Noe itu, belajarlah berkesenian, menyanyi atau melawak, agar yang menyakitkan terasa menyenangkan. Dan nanti LPM di IAIN bukan lagi Lembaga Pers Mahasiswa, tapi Lembaga Pelawak Mahasiswa.

Advertisements