DEMO ITU UNTUK MENGINGATKAN

Momentum seabad kebangkitan nasional seharusnya bukan untuk sekedar dirayakan dan atau diperingati, tapi direnungi. nilai-nilai tentang kesejahteraan dan keadilan harus diterapkan, bukan dikaji.bagi yang lupa, mahasiswa dengan upayanya berusaha mengingatkan pelajaran berharga ini. Jika tidak, berarti nilai sejarah kita merah

2008. 100 tahun kebangkitan nasional, 100 tahun sumpah pemuda, 100 tahun lahirnya sastrawan dan budayawan bangsa Sutan Takdir Alisjahbana dengan polemiknya, 10 tahun reformasi yang mengorbankan darah dan air mata, bangkitnya dunia pebulutangkisan putri setelah 10 tahun koma dan entah hari apa lagi sehingga menjadikan 2008 hari istimewa bagi bangsa besar ini.

Tapi nampaknya semua peringatan tarih itu hanya merupakan ritual sia-sia tak bermakna di mata rakyat kecil yang kian tercekik dengan kebijakan yang tak kunjung bijak dan berpihak pada rakyat; amandemen pasal 33, UU Migas, UU ketenagakerjaan, impor beras dan penarikan subsidi beberapa bahan pokok. Mungkin sedikit dari rakyat paham bahwa penderitaan itu dampak dari kesepakatan bapak-bapak bangsa.Dan banyak dari mereka, rakyat kecil, yang tahu, apatis dan terlanjur fatalis akan nasib. Mereka memang hidup untuk ditindas, itulah kepercayaan mereka. Tapi mahasiswa paham. Sangat mengerti bahwa penderitaan itu akibat sistem. Dan selamanya mereka akan tertindas, menjadi warga negara taat tapi tidak mendapat apapun dari negara. Yang didapat dari kepatuhan hanyalah kesulitan.

Sepekan yang lalu, kawan-kawan saya (mudah-mudahan saya diijinkan memakai term ini) melancarkan aksi demonstrasi turun ke jalan menentang kebijakan dinaikkannya harga BBM. Kenaikan yang telah mencapai 300 % jika ditotal dengan penarikan subsidi sebelum-sebelumnya, menyulut keinginan tulus untuk menyampaikan suara hati rakyat yang jauh dari pusat kekuasaan. Pihak yang selalu menjadi tumbal perubahan dan diminta bersabar meski napas hidup jutaan rakyat itu kian megap-megap.

Kawan-kawan saya itu dengan kesadaran penuh hendak mengingatkan bapak-bapak akan beban yang dipercayakan saat pemilihan dulu. Barangkali mereka lupa tentang beban yang ada di preambul UUD45 yang hendak melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterrusnya dan seterusnya. Barangkali mereka lupa hafalan kala SD lantaran sudah nyaman dengan fasilitas yang tersaji.

Upaya itu dilakukan, murni untuk mengingatkan dan hal itu tanpa ada pihak lain yang menunggangi. Asli, sebagai wujud keprihatinan atas penderitaan bapak ibu yang tak kunjung usai. Sebab untuk saat ini, hal demikianlah yang bisa dilakukan kawan-kawan saya.

Tentunya bukan hanya mahasiswa saja yang demo. Dinaikkannya harga BBM jelas berdampak besar bagi masyarakat. Transportasi dan menyusul bahan-bahan pokok pun akan merambat. Maka wajar jika rakyat demo menuntut pemenuhan sumpah jabatan. Janji yang diharapkan dapat memberi tambahan pilihan dalam kehidupan.

Tapi nampaknya harapan itu pun membentur dinding ketidakpekaan (bebal?). tuntutan yang seharusnya dikaji untuk dicarikan solusi justru dikaji untuk dicari kesalahan dan kelemahan prosedural-normatif. Sejenis anggapan bahwa rakyat itu bodoh mau dan bisa menerima peraturan, maka jika ada dari mereka yang pintar membantah, itu ada ulah setitik nila yang mencuci otak mereka. Siapa atau apakan nila itu? Kaji yang kedua ini dilakukan untuk melanggengkan kekuasaan.

Sebenarnya apa yang salah dengan (satu-satunya) usaha yang mereka lakukan, entah itu ada aktor intelektual atau bukan? Marilah kita flash back ke pelajaran fisika SMP, hokum ketiga Newton; besarnya reaksi sebanding dengan aksi yang dikeluarkan. Kanyataan bahwa melonjaknya harga BBM adalah keputusan akhir tanpa mencoba alternatif yang lebih pro rakyat sudah sangat menyakitkan. Dan itu adalah penghianatan terang-terangan. Kenapa tidak lapang dada saja berujar ‘maaf, kami yang salah’? kenapa harus sibuk mencari selamat sendiri dengan menuding si A si B? Toh, ditunggangi atau tidak, itu bukti ketidakjelasan program. Adalah kritik yang membangun atas kinerja yang amburadul agar lebih baik. Usaha itu masih wajar. Tapi kewajaran itu bukan tidak mungkin menjadi anarkisme bila terus didiamkan, seperti tragedi Mei 98. Sejarah akan berulang karena tidak ada yang cukup bijak mengambil pelajaran dari masa lalu.

20 Me1seratus tahun lalu, Dr. Soetomo dkk mendirikan organisasi Boedi Oetomo dan tanggal itu desepakati sebagai hari kebangkitan nasional (Harkitnas). Dan tahun ini bangsa Indonesia memepringati dengan pesta besar-besaran; tarian, nyanyian, konfigurasi, dan pertunujukan kabar. Tapi untuk apa Harkitnas diperingati (dirayakan) dengan gegap gempita jika petuah salah satu pendirinya, Dr. Soetomo, tidak diugemi? ‘Kalau kita akan memuliakan bangsa dan nusa, baiklah kita menyempurnakan terlebih dulu mereka yang berjuta-juta di desa itu. Selama mereka belum hidup sempurna, belumlah kita berhak menamakan diri anak Indonesia.’ Sementara ini, apa yang terjadi pada orang-orang di desa-desa itu?

Segalanya akan tetap asing. Apalagi sejarah. Masa depan, sekalipun itu makin samar dan perlahan hilang lebih penting ketimbang masa lalu yang tak memberi pembelajaran.

Advertisements