Tawa Itu Ada Tanpa Mengapa

Salah seorang kawan saya sedang berbahagia, sangat bahagia mungkin, mengingat anugrah yang Tuhan berikan empat sekaligus dalam satu waktu; uang, kemasyhuran, jabatan dan perempuan. Lalu minggu lalu ia mengadakan acara makan-makan, sejenis even berbagi kebahagian.

Ketika dipaparkan kebahagiaannya satu persatu, saya mendesah dan gelisah. Meski begitu saya tetap tertawa mengikuti irama pesta. Sebab saya mendesah adalah karena takjub, luar biasa saya pikir. Salah satunya adalah karena dengan empat kebahagiaan sekaligus dia masih ingat kawan, termasuk saya yang bisa dimasukkan dalam kategori lawan. Saya mendesah, bagaimana dia bisa seberuntung itu, bukan berarti saya iri, dengki atau apa, bagaimana ia bisa seberuntung itu, bukankah usaha yang kami keluarkan sama, bahkan bisa jadi saya berusaha lebih keras, tapi saya tetap tida mendapat apapun selain kegagalan.

Saya mendesah bukan karena iri, dengki atau apa. Saya gelisah karena takjub, bahwa saya masih bisa tertawa atas keberhasilannya padahal itu berarti kegagalan di pihak saya. Saya dipecundangi tapi masih punya daya untuk tertawa? Luar bisa mausia itu, berkali-kali tersandung, berulang terjembab mencium tanah, jatuh bangun tak terhitung, tapi tak pernah mau meletakkan impian. Ditolak berkali-kali plus dicaci masih juga tak pernah alpa mengirim setangkai mawar untuk calon pacar. Sebelum tidur terus berdoa agar esok mata kembali terbuka, padahal yang dilihat tetap sama, berbagai kotak rekayasa manusia.

Terus berlanjut dalam hidup, manusia mengindra dan mengusahakan hal yang sama, entah nantinya pujian atau cibiran yang diterima. Seperti Sisyphus yang terus turun naik gunung menggelindingkan batu. Ia harus tertawa untuk esok, untuk menghadapi bangun dan ruang sama yang menghimpitnya.

Meski demikian, saya tetap tidak tahu, apakah saya tertawa karena ikhlas turut berbahagia atau apa. Tapi saya pikir tidak penting mencari sebab, kenapa tawa ada. Yang saya ketahui, tawa itu ada tanpa mengapa, seperti halnya mawar yang mekar tanpa pertimbangan ‘adakah yang melihat?’

Advertisements