lima minggu sudah saya lalui jalan sunyi ini

Lima minggu sudah saya lakoni, meminjam istilah pak edi, jalan sunyi

‘wong kok senengane ndewe’ itu komentar teman saya tiap kali saya berlari. Maka gelar ‘cah ilang’, ‘eksklusif’ dst, dst pun disematkan pada saya. Padahal, demi allah! (ini tidak main2, huruf qosam, lho) tida pernah terlintas sedikitpun di benak saya untuk menyendiri, menyingkir dari peredaran ‘no one like to be alone’ kalo avril bilang. Jalan itu dating sendiri pada tanpa saya memanipulasi semesta. Hingga saat ini sudah tercatat dua kali saya harus minta ijin keluar sebelum kelas usai. Lho? Lho banget memang.

Jalan sunyi yang saya maksud adalah mengambil jadwal berbeda dari teman2 satu paket. Untuk mata kuliah tauhid, saya masuk di kelas anak matematika karena kesalahan daftar, dan ini sukses memporak-porandakan seluruh jadwal hari kamis, belum lagi menghadapi dosen yang sewenang2 minta pindah jam tayang.

Nah, mengenai tauhid di kelas math, lantaran diampu dosen dari fakultas lain, maka prosedur perubahan jadwal bagi saya agak rumit. Pernah ada kasus, teman saya, harus demo berurai air mata di depan publik memohon pindah jadwal karena kesalahan waktu daftar mata kuliah. Tapi karena saya bukan artis yang baik, yang bisa menangis jika diminta atau dibutuhkan, maka saya pasrah. Nah, dosen saya ini adalah dosen Ushuluddin jurusan perbandingan agama, dengan referensi sejuta, Gunawan Mohamad bisa kalah dalam hal penyebutan nama.

Mungkin saya sedkit megamalkan ajaran jabbariyyah (sebelum mengambi kelas ini, aliran Islam yang saya ketahui adalah jabbariyyah dan mu’tazilah. Bukankah yang seru hingga saat ini adalah sunni-syiah? bodohnya saya), bahwa segala yang datang pada saya adalah dari Gusti, dan itu baik. Dan memang demikian. Silabinya beda jauh dari tauhid di paket saya yang hanya itu-itu saja. Benar-benar luar biasa nama2 yang nanti harus dikaji, empat imam, Iqbal, Ali Syari’ati, Asghar Ali Engineer dll, dll.

Saya bersykur sekalipun harus sprint lintang pukang lintas gedung N-K, kudu sprint kalo ngga mau telat di kelas selanjutnya, secara dosen yang satu ini semangat 45 kalo diskusi. Sekalipun seluruh kelas sudah berdaya upaya dengan mengaktifkan alarm hp jam setengah tiga, tetep keukeuh lanjut hingga sepuluh-limabelas menit. Sebab saya ngga bakal konsisten dalam pembuatan foot note paper jika tidak bertemu sesi diskusi dengan anak2 math ini, saya juga ngga bakal berkenalan dengan syiah revivalnya Vali Nashr atau Quraish Shihab, dan (ini yang membuat saya agak merasa canggih) saya bisa meggolongkan dewi persik dkk dalam penganut murji’ah ekstrim kalau dilihat dari esensi.

Terimakasih, entah engkau sengaja atau tidak, engkaulah perantara sampainya saya di lorong sunyi itu. Sekarang masing2 kita telah nemu ruang yang mengeksklusifkan kita dari pohon tua, dan untuk itu aku barterimaksih sekalipun ada tragedi penghianatan, ketika lagu Membekas Di Hati Laluna menjadi theme song kebangsaanmu ‘kau yang slalu aku puja ternyata meninggalkan aku, menghianati cintaku…’ dan aku terus bersenandung ‘jangan lagi kau sesali kaputusanku, kutak ingin kau semakin kan terluka…’. Ah, apapun dan bagaimanapaun kita sekarang, saya tidak akan lupa engkau yang menyirami saya di pohon tua, engkau yang menunjuki saya jalan WP, engkau hampiri saya, sebab sekalipun saya berindra lima lengkap grahita, lemas rasanya untuk sekedar melambai. Sedetik cukup bagi waktu untuk berdetak, tapi tidak bagi saya untuk merekam gambarmu dalam bingkai tirai transparan ritmis hujan, atau melacak area lidah mana rasa manis, pahit atau gurih Gery cocholatos maupun permen Dinamyt meletak, atau, sebercahaya apa kulitmu dalam balutan baju ijo tai kebo jahitan Bapakmu, kain yang kita pilih di HayHay. Tapi,

tak perlu bingung

begini saja,

berapapun jauh jarak kita

kan kukirim setangkai doa

setiap hari

setuju?

(Setangkai Cinta, Rieke Dyah Pitaloka, dengan kata cinta diganti ‘doa’)

Advertisements