Temu Pembaca?

kita sampai di titik nadir

tapi bukan akhir

terbanglah

terbanglah

jika lelah, teman

jika lelah, kawan

ingatlah, bumi masih

bertanah

Puisi tanpa judul (jikapun ada judulnya ini murni karena ketidaktahuan saya) di atas dibawakan dengan mekso apik oleh Lilik Wiyono yang saat itu menjadi moderator, sebagai penutup dalam acara temu pembaca Edukasi, selasa 22 April 2008 kemarin. Acara yang sedianya diadakan sebagai ajang curhat, meluberkan semua uneg2, bahkan misuh pun boleh, untuk pembaca, ternyata malah menjadi ajang kumpul penulis dari masa ke masa. Bagaimana tidak, jika dari tiga lusinan mahasiswa (dan satu pembantu dekan) yang menghadiri acara tersebut, hanya tiga yang berpredikat pembaca, sisanya penulis, alias anggota Edukasi sendiri.

Agak kecewa melihat kenyataan ini. 100 lembar pamphlet kecil seukuran postcard dibagi dan 40 lembar pamphlet ukuran kertas A4 ditempel dan hasilnya demikian,itu belum dilihat usaha kaum panitia yang lembur cuma

untuk membuat tulisan yang digunakan sebagai

background. Dan saya kebagian menyeret karpet yang

panjangnya naudzubillah plus memeluk pohon lantaran

background yang dari kain harus diikat di pohon, secara

acaranya diadakan di taman unyil kampus II, padahal nama

saya tidak resmi tercantum sebagai panitia tapi

mendatangkan diri (datang tak dijemput pulang tak diantar)

jam tujuh

Melihat kenyataan itu setidaknya ada dua premis yang bisa ditarik,

*Minat baca mahaiswa rendah

*Minat baca masih ada, tapi medianya beda

Pilihan yang aman tentu opsi kedua. Dan para pembaca yang budiman dan rupawan ternyata menyadari hal ini dengan usul ‘gimana jika rubrik2nya dipaskan dengan kita?’ ini bikin kita gregetan. Belum tahu dia… gimana pusingnya kita bikin rubrik saitifika untuk menyesuakan diri dengan dibukanya jurusan tadris.

Ada juga yang rada menuduh, ‘kok Edukasi eksklusif banget? Hari ini kan pelantikan seluruh PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) dan Edukasi ngga ikut, malah ngadain acara sendiri?’ ini bikin kita mumet, secara ketika kita diberi tahu, even ini dah disiapin jauh-jauh hari sebelumnya. Mau ngebatalin? Kayaknya lebih mudah meminta pak pilot mendaratkan pesawatnya biar kata udah take off.

Tapi ada juga yang memuji kita dengan mengatakan bahwa ‘cover Edukasi lebih canggih dari pada punya anak UNDIP’ sialan! Yang dipuji covernya doank. ‘anak UIN Jakarta malah ngga percaya kalo ini terbitan IAIN Walisongo, sampai mereka lihat covernya’ cover lagi? Lailahaillallah! Emang sih, dengan cover glossy, Edukasi keliatan keren banget. Sumber dananya dipertanyakan. Tapi murah kok. Mahasiswa cuma bayar empatbelas ribu satu semester dan dapat satu majalah Edukasi, satu majalah mini Quantum, satu majalah super mini BSE (Beranda Sastra Edukasi) yang keliatannya paling menyedihkan, secara covernya beda, ngga sekelas sama kedua kakaknya. Yang ini (cover BSE) diusulin kudu sama dengan yang lain. Yang bahagia dengan usulan ini justru SuLilik ini, secara beliaulah (Salah satu) yang nguri-uri sastra di Edukasi, dan mungkin nestapa bagi Bu PU. Beserta bulletin tiap minggu dan newsletter tiap bulan dan ada Jurnal satu tahun sekali. Itu semua dengan catatan ‘jika deadline terpenuhi’. Jika tidak, kepengurusan diperlama, sampai keharusan terbitan purna. Inilah yang menyebabkan timbulnya kesan ‘eksklusif’. Tiap periode kepengurusan kudu menyelesaikan kewajiban. Maka, jawaban yang agak logis untuk pertanyaan ke dua adalah seperti ini, ‘bukan proses pengeksklusifan diri yang kita lakukan, tapi sejenis upaya pendisiplinan diri.’

Tapi, apakah hanya LPM Edukasi yang berproses demikian, saya kurang tahu.

acara selesai pukul 12 siang, dan giliran panitia untuk menyeret karpet, ngengkut balik soundsystem, menggulung spanduk, rafia, kabel dan memunguti sampah sisa coffe break.

Advertisements