Musyawarah Wilayah Dan Seminar Jurnalisme Ekonomi Kerakyatan PPMI
Agak Kacau

Kiki, sie konsumsi tidak tidur dua hari dua malam.
Syakur, ketua OC kurang lebih sama dengan kiki, hanya sedikit agak malang dengan intimidasi dari salah satu anak UNNES yang mengirim SMS bahwa tema ekonomi tidak cocok untuk kaum jurnalis. Syakur gentian membalas bahwa tema ditentukan oleh SC, dan ia yakin, narasumber tahu audiens-nya seperti apa, maka bisa dipastikan akan memakai istilah yang ringan dan understandable. Sekalipun Syakur tahu juga, ia tidak mempunyai wewenang ilmiah dalam menjawab karena tema ditentukan oleh jajaran panitia SC yang mana rapatnya juga diadakan di kampusUNNES juga. Ah, semoga mba’ yang ngasih saran ini tahu dan segera mengkroscek.
Hari H, kamis 27 April, semuanya lemes. Saya yang menulis ini juga ikut-ikutan lemes. Dana yang dipakai masih swadaya, Pemkot maunya menurunkan dana setelah acara usai. Jadinya panitia bantingan untuk pesan maksi 70 porsi. Menyedihkan. Belum cukup sampai di situ, ada suara dari salah satu kawan mahasiswa UMK (Universitas Muhamadiah Kudus) bahwa acaranya mengecewakan. Hampir semua narasumbernya tidak datang dan hanya mengutus wakil. Padahal sudah jauh-jauh dari kudus, lho. Lebih lucu lagi ketika jam setengan sembilanan ada pembicara yang kira-kira begini bunyinya “pesertanya masih belum ada? Ya sudah, saya makan dulu.” Padahal seperempat jam yang lalu beliau sudah datang dan mengajukan alasan ‘makan’. Yang kedua memakai diksi ‘makan’ lagi, mungkin hal itu untuk mengritik panitia, atau bisa jadi beliau ini kurang kreatip? Anda pilih yang mana? Monggo kerso. Ini juga dijadikan alasan orang2 tua juga mba’-mas PPMI. ‘Masa pembukaan dihadiri rektor dan Pak Gubernur ngga ada pesertanya? Masa peserta juga menjabat panitia? Sosialisasinya kurang pasti.” Begitu gerutu mereka. Lha Syakur, sang ketua suku mencak2. ”bagaimana bisa OC lagi yang disalahkan. Undangan sudah disebar sampai tujuan. Giliran tidak ada yang datang, ya, jangan salahkan kita, dong. Salahkan sama LPM yang tidak mengirimkan delegasi.” Wah, pokoknya ruwet.
Hari pun malamlah, sementara bendahara bingung para peserta mau diungsikan dimana, secara tidak ada uang untuk menyewa penginapan Wisma, Bang Jack malah sesumbar “nanti peserta diinapkan di wisma iain ws lantai tiga.” Padahal seperti diketahui, wisma yang dimaksud hanya terdiri dari dua lantai. Lelucon garing sih sebenarnya, tapi dalam hidup mungkin orang seperti bang jack inilah yang kadang dibenci namun dinanti. Kalo ngga pas kumat gilanya, pasti. Itu belum dibumbui dengan tragedy AC. Dari panitia emang tidak meminta fasilitas AC, tapi si Dungu (saya tidak tahu lupa namanya) malah marah2 sama pak penjaga gedung “gimana tho,pak? Kok ACnya ngga dinyalain. Bapak tau dong, kalo Semarang itu panasnya minta ampun?” wadhuh cilaka duabelas! Laporlah bapak ini ke atasannya, komplain datang, islah diupayakan. Maka tiada kata yang meluncur dari panitia selain “maaf”. Malu.
Di forum muncul mba’ Rani, PU LPM Eden dari Undip. Beliau terpilih menjadi dewan presidium sidang pemilihan ketua. Cantik, energic, imut pula. Wah, tipikal istri yang ideal, bukan?
Mau cerita apa lagi,yah? Ada hiburannya juga, AAC diputarlah di audit kampus 1 sambil makan dengan menu ayam bakar Mba’ Ti’.
“Sambalnya pedes?” Tanya intan pada saya sebab saya sudah membuka duluan. Saya jawab “pedes benget”. Tau, apa bantahannya setelah mengecap sendiri?
“Lidahmu mati rasa atau apa? Wong asem gini kok dibilang pedes.” Lalu nyeletuk lagi anak UMK.
“Semarang ciri khas makanannya asem,yak?”
“Asem ngga asem depend on siapa yang makan di sebelahnya.” Jawab saya. Dan ternyata Mas Hanif, manusia kosmopolit yang baru saya jumpai namun sudah terasa akrab agak minder. Apa pasal? Bisa jadi dia jarang mandi, atau dia penjual tomat yang sekarang lagi murah dan di borong Mba’ Ti’

Advertisements