Rumah Remah Hujan

 

aku merindu rumah remah hujan

pada riuh gumam tembang dan cemerentang wajan

yang tak dapat menyajikan sarapan di meja makan

bersama merenangi kali pasi dalam sendiri

sendiri merenungi ceruk kerut maut

waktu tuhan menembakkan hujan tanpa sasaran

apakah bengkah di atap gedung jangkung

gereja blenduk, jembatan ambrol

atau rumah cebol milik kami

 

TEESS!TRETESS!!!

genteng yang dirajang warsa itu meringis

lalu muntah remahan dari berbongkah-bongkah hujan

SSSSHHH…

lemah tak kenal usia itu memejam; ames

usai melek di kemarau panjang lalu

sementara dedaun pintu jendela kembali muat di bingkainya.

usai royak di kemarau lalu

ada yang menyala dalam gulita

ada yang meruap-sengat di udara

membunuh selera

kecing tai kucing kecut kencing curut

 

aku merindu rumah remah hujan

dimana cerita melankoli-misteri lamatlamat terlihat

dari sepasang suami-istri

dua pasang anak

dan setunggal mbah putri

 

aku merindu rumah remah hujan

dalam rindu itu hanya ada rindu

rindu.

sabda bagi sang gila yang meracau

tak akan berhenti tak

seperti antukan pendulum di angkasa mati

 

*sekedar gumaman di atas rumput dalam pikiran nglangut


Advertisements