Menyelami Nama Diri

Rakkaustarina. Jadi ingat novel kedua pak jamal (novel pertama juga, ding,). Lumayan membosankan. Maksudnya, Pak Jamal luar biasa sabar. Wong yang baca aja bosen, gimana nulisnya,ya? Bukan apa2, sebab novel ini jadi keliatan ngiklanin Finlandia, negaranya Nokia dengan seribu saunanya. Dan sejahteranya.

Ada yang menarik buat saya, Fifay. Hehe… bukan apa2 juga sih, Cuma dikit kesentil. Harap diketahui sebelumnya bahwa saya menamai diri fay bukan disebabkan karakter bikinan Pak Jamal itu (sekalipun ada kemiripan nasib), tapi murni karena si Tyo. Tapi kalo Tyo manggil saya karena fiFay? Tambah ngga mungkinnya, sekalipun dia baca lousiana-lousiana yang terbit di tahun 2003? Yak. Sebab kami masih SMP, dan lulus SMP tahun 2002. Jika demikian, berarti yang njiplak Pak Jamal, dong? Bisa jadi. Tapi saya ngga pengenmemper -panjang perdebatan soal nama. Yang mau saya bahas adalah ekspektasi manusia atas sesuatu yang bukan apa2nya. Karena saya liat, biar kecil, ada pengharapan dari tokoh yang akhirnya kecewa dengan realitasnya. dan Pak Jamal dengan sadar mengerti rasa kemanusiaan yang ini.

Ekspektasi dan pretensi sangat mudah meruyak di kepala manusia. Artinya, kayaknya itu memang watak dasar manusia untuk berharap dan berpura2. jika demikian, dimanakan manusia menampakkan kokoro, sukma, hati-nya? Atau dengan diksi Karellina Supelli, diri ontologis.

Manusia lahir dan hadir jauh sebelum ada dalam wujud fisik. Hidupnya sudah ada ketika nenek moyangnya ada. Contoh konkrit, nama. Ketika lahir, manusia tidak langsung punya hak menentukan nama, justru orang lain yang merasa berhak atas nama yang menurut saya nama adalah hidup seseorang ke depannya. Sekarang Farida Arroyani (ini sekedar contoh agar tidak ada yang menggugat karena kemiripan nama tokoh) adalah nama yang menghubungkan saya dengan dunia, komunitas lain di luar saya (the generalized other). Komunitas itu menuntut saya untuk berlaku sebagaimana mestinya farida, arroy, yanik, nanik, arroyani, atau ayoy dalam versi masing2. Mereka merasa berhak dengan tiap2 panggilan, yang itu adalah tiap lapis diri saya. Dan saya tidak akan –pernah bisa– menampilkan Farida Arroyani seutuhnya seluruhnya, sebab memang manusia tidak akan bisa berlaku demikian tanpa memecah diri. Tidak akan hidup dengan menampilkan diri yang The Whole. Meski demikian, saya tidak merasa bahwa farida, arroy, yanik, nanik, arroyani, ataupun ayoy adalah alter ego dari diri masing2 saya. Itu memang saya. Ibarat bawang merah, maka ragam panggilan itu adalah lapis2 yang seharusnya ada, dan menyertai kapanpun dimanapun. Artinya, kita harus memahami konteks kehidupan dan karakter setting masing2.

Jadi, ekspektasi dan pretensi emang jodoh, dan barangkali itulah yang seharusnya terjadi. Jika ternyata kita masih sibuk bertanya kapan diri ontologis, atau sukma itu muncul, ya, jangan masuk ke suatu komunitas. Sendirilah. Dan itu penting menurut saya, secara, kadang kita butuh juga berdialog dengan diri sendiri. Bukan narsis,ya? Tapi lebih dari itu, sobat, berdamai dengan diri sendiri. Mau ngga mau, kita ini mahluk sosial dan individu juga, so… karena kita memang sendiri juga kok. Dulu di rahim ibu, kita sendiri, nanti pas kita mati, juga gejala sepeti itu mengiringi. Dan di kasus saya, saking seringnya saya monolog, jadi lupa gimana proses dialog itu. Amnesia. Tapi untung amnesia, dari pada phobia manusia? Yang barangkali sedang saya alami saat ini. Dan barangkali juga, bukan itu, hanya moody, lagi pengen diam dan sendiri.

Advertisements