Curhatan Yang Ngga’ Jadi

Hari ini saya merasa konteks adil itu emang seharusnya sama rata, bukan proporsional. Bullshit itu. Ceritanya gini. Di kelas speaking saya yang urutan ke3 dalam absent diminta maju pertama, alasannya, abjad yang A belum siap. Mereka dapet giliran sesudah saya. Lha wong sayanya juga belum, Bu.. Akhirnya sodara-sodara, setelah tawar menawar yang alot, dan disertai ancaman bahwa saya tidak akan mendapat second chance, saya maju dengan langkah mantap (bukan mantaB). Bercerita, padahal seharusnya SPEECH. Maklum, kul perdana yang ke dua, secara, yang perdana murni absen, jadi deh, presensi kali ini kul perdana.

Manusia berusaha, dosen menentukan. Saya maju, #@$^%%$%$$$$^%$^% kemudiaan Arijz (namanya canggih,kan? Teman, saya…)pun menysul dengan lidah yang terus menjulur, kaing kaing…praise be to Allah %#@(&*^%%, yang ini bener2 pidato, batin saya, lha saya tadi apa? Adhuh… rencana mau memperbaiki nilai B gering, pupus sudah.

Salah satu teman saya berujar, ‘itu karena Bu Tar sayang sama kamu, neng.’ Entah mau menghibur atau menghina. Dan saya balas saja dengan teriakan dan isakan ‘iya, menyayangi dengan cara yang paling menyedihkan’ hiks…hiks…

Saya Cuma ingin mendapat kesempatan sama dengan yang lain, Bu… jika demikian, saya lebih baik tidak dicintai saja. Ini karena ada ekspektasi berlebih dari dosen saya satu itu. Tuh, kan…ekspektasi…muak aku dengan itu. Saying, manusia memang tempatnya ekspektasi.

Ah, ibu… jangan benci saya karena ini. Semua itu karena unprepared yang tidak saya sengaja. Semalam udah mencetak bangun jam tiga di kepala tetangga, minta dibangunin, tapi realitas semunya jadi jam setengah enam. Comot sana comot sini, simsalabim, jadi naskah yang pastinya ngga bakal nyampe dengan durasi lima menit.

Perdananya gagal, gimana mo isi ulang? Alamakkk

Akhir kata, maafkan anakmu ini Bapak…

Advertisements