HAMBA YANG MANIS

Beberapa saat yang lalu teman saya berpesan yang isinya demikian ‘jadilah wanita yang manis yang berbakti pada suamimu, dan mampu mendidik anak-anak mu yah..’.Ketika itu saya tidak ambil pusing sebab dia tidak bertendensi apa2(ini khusnudzon saya, semoga benar). Lucu saja mengingat status saya yang masih perjaka(?). Dan efek lucu itu membahana 24 jam kemudian. Eits,tunggu dulu. Jangan buru2 menyimpulkan kalo saya lemot, apalagi lola. Kenapa efek itu bisa sedemikian membahana adalah disebabkan adanya ekstensifikasi konteks. Sehari usai saya membaca pesan itu, saya dilihati (maksudnya dikasih lihat) sohibah, saya sebuah buku yang sudah terbuka halamannya :129. awalnya saya malas, tampilannya tabel2 gitu. Pasti statistik masa haid atau masa idah (bukan mas saidun lho?), piker saya. Wong judulnya saja Berburu Pahala Ketika Haid. Ternyata momen ini adalah aplikasi langsung dalil Qur’an ‘ijnanibu katsiran minadz dzan’ ‘jauhilah kebanyakan dari prasangka’. Karena ternyata kalimat bisa diletakkan di dalamnya. Ya, kalimat2 yang beberapa terasa sumbang bagi orang desa seperti saya (lihat perkamen: lampiran tab.1). Sedari kecil, saya tidak pernah disuguhi siaran langsung adegan ibu menyambut bapak pulang lalu cipika cipiki, ask2, tell2, talk2, apalagi sampai ‘melucuti’ baju kerja bapak. Bagi saya semua itu hanya ada dalam sinetron, jauh dari realitas hidup saya. Sebab kasusnya adalah demikian; bapak yang dari sawah beepotan lumpur, bau pestisida dengan tudung yang hanya menampakkan mata –biar ngga keracunan- , tak jarang kantong celananya dipenuhi walang, wereng, bahkan curut. Dan dengan piranti favorit yang selalu menyertainya; cangkul dan arit.

Saya tidak bisa bayangkan acara serah terima cangkul dan arit yang berpindah dari tangan bapak ke ibu. Lalu ritual duduk2 menanyakan ‘hari’ yang seharusnya terjadi di kasur atau sofa pindah lokasi di kolam lele dengan melemparkan walang, wereng, dan curut. Jika barometer keluarga harmonis-romantis adalah lilin (apalagi pake emblem ‘aroma theraphy’), wangi2an dan kembang, maka roll keseharian ibu bapak saya tadi tidak lolos kualifikasi itu dengan stiker ‘belum cukup umur’

Ibu tampil cantik mengenakan gaun terbaik + wangi di rumah? Sungguh musykil. Apalagi jika masih direpotkan dengan kehadiran bayi mungil, yang ada, ya, pesing. Mengajak anak2 cepat tidur? Justru sebaliknya, ibu saya yang tidur duluan menitipkan anak2nya pada asuhan suster tipi yang baik hati.

Tapi sohibah saya yang lain berpendapat lain ‘ini dia, rahaisa nikah sampai jannah!’

Yang lain lagi menyahut ‘Iya. Jannah dengan predikat mati mudah naza’ susah?’ maksud sohibah saya yang ini,kelaparan adalah jalan paling mudah menuju kematian sekaligus paling menyakitka dengan kadar penderitaan ranking pertama. Ia berkata demikian karena lapangan pekerjaan (dalam arti harfiah) Bapaknya di tambak. Sekarang, mari kita profilkan dulu sang ayah.

Tampak depan: topi (mirip yang dipake Ihsan Idol di tipi pas main sinetron), slipper, baju lusuh dengan tali yang tersampir di pundak kanan. Dan selarit senyum nangkring di bibir. Beliau nangkring pula di sepeda ontanya.

Tampak samping: hampir sama, hanya apa yang menggantung di pundak kanannya ketahuan. Namanya KERONDO URANG. Bentuknya mblenduk, mirip guci Cina gitu. Piranti lainnya adalah serok, saya tidak tahu apa bahasa indonesianya.

Nah, begini adegannya. Ketika Sang Ayah pulang, Ibu mengambil alih kerondo urang. Jangan bayangkan adegan copot sepatu atau sandal, sebab si sandal sudah naik pangkat, ia sekasta dengan udang kini; di dalam kerondo. Bagaimana kabar anak2? Oh, ternyata mereka sudah siap di samping sumur, menunggu operan udang dari Ibu. Keluarga batih itu sembari menghirup amis udang, mengaudisi udang. Apakah nantinya masuk ember jambon, hitam, putih (Saya ragu dengan warna ini, mungkin lebih tepatnya ‘krem’), ijo, atau wajan. Pada saat yang sama, Sang Ayah menyeruput teh poci melati angetnya di belahan rumah yang lain. Itu dulu. Sekarang? Konon rumah itu menebarkan wangi yang beda pasca pembangunan bandara Ahmad Yani. Jika dulu bau amis yang dinikmati tiap sore, sekarang berganti busuk-kecing-nya roti jamuran. Tambak itu sekarang ‘ditanami’ bandeng debab suplai udang dari laut turun drastis. Jika dulu bisa dapat empat ember besar, sekarang paling cuma seember cat. Panennya tidak lagi tiap sore. Bandeng bukan udang yang langsung didistribusikan laut, bandeng butuh waktu untuk tumbuh dan mencerna nutrisi. Apa nutrisinya? Kalo banyak duit, pakan-nya made in pabrik. Tapi kalo duitnya ngga banyak2 amat, ya roti busuk itu, yang kalo beli bisa sampai satu sak. Anak2 bertugas membuka bungkus dan melumatnya menjadi serpihan2 kecil. Gerakannya mirip kalo membuat api tanpa korek, atau memisahkan kapuk dari klenthengnya, yang semuanya manual.

‘Yang halus, Ni’ pesan sang ayah kepada anak, sebab anaknya, yang juga sohibah saya ini namanya Nia. Sebabnya kenapa kudu kecil dikarenakan faktor malasnya si bandeng gosok gigi, makanya, roti aja ngga bisa ngunyah, maunya sistem langsung telan.

Jika barometer keluarga harmonis-romantis adalah lilin (apalagi pake emblem ‘aroma theraphy’), wangi2an dan kembang, maka roll keseharian keluarga mb’ Nia ini pun tidak lolos kualifikasi itu dengan stiker ‘belum cukup umur’ lalu teman yang lain tadi berfatwa kembali ‘bener juga. Bapak saya berprofesi sebagai bapak rumah tangga. Justru ibu yang saban hari kelayapan di pasar. Nungguin took sembako tujuh hari kerja. Tapi sampai sekarang belum pernah denger tuh,niatan pisah dari keduanya. Tapi kalo disuruh milih antara yang wangi berseri apa yang lusuh kumal..’

‘Kalo sudah begini, ‘wa ‘asa an takrahu syai’an fahua khirul lakum wa ‘asa antuhibbu sya’a fahuwa syarrul lakum’ ujar mb Nia ber-qiraah ria

‘Maksudnya’ kompak kami mendeklarasikan kecerdasan kami

‘Hidup tampaknya bukan berarti memperoleh hak untuk mengangankan suatu idaman ideal. Qola Einstein ‘ada dua cara menghayati hidup. Yang satu adalah seolah2 mukjizat itu tak pernah ada. Yang lain adalah seolah2 segala sesuatu merupakan mukjizat. Tinggal pilih yang mana.’

‘Tarjimnya panjang banget, yak?’

‘Intinya gini. Kalo ditarik ke garis makro, manusia itu hidup tanpa punya bargaining position di depan Gusti Allah. Kamu yang jelek pendek ngga bisa memilih menjadi Mulan yang dinobatkan sebagai mehluk tuhan paling seksi versi Dhani atau jadi anak siapa misalnya. Demikian juga Mulan, dia ngga bias milih jadi Maia yang bisa nyiptain lagu. Kita ini paralel dengan semua mahluk; lahir, hidup, mati…’

‘Kalo sudah begini, bisa tambah panjang sakit hatinya.’ Bisik saya pada sohibah saya yang lain. Dan dengan kode anggukan kepala, suatu premis yang kami sepakati sebagai

‘Permisi dulu, yak? Dah waktunya nonton Cahaya ’

‘Ku permisi juga. Mo nangkapin ayam tetangga’

Upaya terakhir nan universal membungkam mulut orang (sok)pintar

Advertisements