PENGELANA SUNYI TANPA TUHAN

Edna, St. Vincent, Edna lahir pada tanggal 22 Pebruari 1892 di sebuah kota kecil Rockland, Negara bagian Amerika Serikat Maine. Putri dari pasangan Henri Tollman Edna, seorang guru dan Cora Buzelle. Pada tahun 1900 mereka bercerai dan Cora pindah ke Camden dengan membawa serta Edna dan saudara perempuan yang lain. Cora seorang wanita pekerja keras, sebagai suster, ia sering kerja lembur untu menafkahi anak-anaknya. Ia dengan sadar memacu anak-anknya untuk menyuai musik dan buku. Satu hal yang selalu ia tekankan adalah kemandirian.

Bakat mengantarnya masuk Vassar, salah satu perguruan tinggi paling prestisius di New York, Amerika Serikat pada tahun 1913. Di sini ia seolah menemukan jalan lurus menuju tangga popularitas, tempat yang menempa bakatnya. Di Vassar, ia mempelajari kesusastraan dan bahasa lebih dalam, menulis puisi dan berbagai naskah drama yang diperankannya sendiri. Dalam perjalanan studinya yang penuh pemberontakan terhadap peraturan universitas, ia tetap mampu lulus pada tahun ke empat. Hal itu membuktikan dia memang pantas menjadi penyair dunia. Kolaborasi bakat dan pendidikan yang mengagumkan.

Usai lulus, ia menerbitkan banyak kumpulan sajak, salah satunya adalah “Renascence and Other Poems” yang terbit tahun 1917. pada tahun ini dan sesudahnya ia banyak digosipkan memiliki hubungan singkat, baik dengan lawan jenis, maupun sesama jenis, pemabuk, dan junkies. Namun apalah artinya ketidaksalehan seorang hamba bagi dunia sastra? Karena disorientasi bukan pilihan dan biseksual bukan kejahatan.

Terlepas dari perilaku sosial dan seksual yang agak menyimpang, dunia tetap mengaguminya. Kepekaannya terhadap realitas sosial di sekitar ditunjang penguasaan teknik berpuisi yang tinggi menjadikan sajaknya tak lekang dimakan waktu. Protesnya terhadap modernisasi akan selalu menjadi topik yang up to date sampai kapan pun. Setiap kata dalam sajaknya merinai menganak sungai, indah dengan campuran diksi arkais dan symbol-simbol kekinian.

Manusia mematut diri lalu pergi

Entah ke kota entah ke pesta

Aku hanya duduk di kursi

Pikiranku bereaksi; biasass

Kadang jongkok, lain waktu berdiri; mengamati

Problema kecil; baju apa atau sepatu mana yang hendak kubawa

Padahal banyak manusia di luar sana kedinginan, jangan jauh-jauh, bisa jadi hanya diseberang pintu

Kepedihan tak beda dengan gerimis sederhana

Terus menerus dan menggetarkan jiwa

Manusia meliuk dan berteriak serak dalam lilitan duri

Esok, mereka akan temukan kembali tangis

Bukan keras, bukan pula lirih

Dan rintihan itu ternyata dianggap biasa, seolah penderitaan adalah konvensi publik. Seolah miskin adalah perjanjian atas kaya. Atau, derita adalah takdir Tuhan. Dan dengan kalimat sakti mandra guna di akhir sajak “Sorrow” Edna menegaskan kembali kegusarannya

Hanya tangis yang sama dan biasa

Meski demikian, derita masyarakat tak lantas menjadikannya terpelintir dalam paradoks rumit agama. Ia pun tak tergesa menarik kesimpulan; itulah garis hidup yang harus mereka lalui

Amankah bagi gubug reot ditopang tatal kabir

Hei, lihat dan jadilah saksi permai istanaku biar berfondasi pasir

Bisa jadi sajak di atas jawaban atas keMahatakterbatasan Tuhan, saking Maha-nya hingga menunjukkan lewat penderitaan. Bunyi yang seakan berasal dari bible perjanjian baru yang berbicara kira-kira seperti ini bangunlah rumahmu diatas fondasi yang kokoh berbatu atau pasir.

Terlepas apakah itu ironi terhadap agama atau bukan, “second fig” di atas tetap bernas keindahan, dan memang Edna memuja keindahan. Dan Renascance, karya pertamanya langsung mengukuhkan bahwa romantisme Edna bukan selaput tipis nan rapuh yang ia sepuh di bibir, sekedar lips service atau lips surface.

Dalam setiap karya, ia tidak pernah berpretensi untuk menjadi Yang Mahasuci, Mahaindah, apa lagi Mahasegala. Ia hanya menjadi pecinta biasa, tanpa aksesori Maha. Mencinta hanya untuk mencinta, bukan untuk yang lain; memiliki misalnya

Kan kusentuh seratus bunga

Tanpa memungut satu pun

Representasi bahwa cinta bukan penjara. Seperti lazimnya definasi masyarakat patriarki yang selalu ia kritik

Semenjak kecilku aku belajar

Hingga kutemu kecantikan yang akan selamanya lekat

Kuat, terpatri dalam kelamnya sanubari

Kecantikan yang hanya merunut dari anggapan masyarakat. Dan Edna benci itu.

***

Di tengah keindahan yang ia gores bermedia kata, Edna menjumpai sejumput luka. Suatu sakit yang hanya ia dan sakit itu sendiri yang tahu betapa dalam bekasnya

Hujan, ujarku, betapa baiknya ia mau bertamu

Dan berbincang denganku di rumah baruku

Luka itu bernama kesepian

Aku berdoa agar aku sehidup ia

Mengecup lentik jejari hujan

Membasuh mataku dengan sinar

….

Menghela wangi angin yang segar

Luka itu bernama penantian. Hidupnya ia umpamakan musafir yang hanya singgah di kedai untuk mendengar suara yang melenakan

Aku menunggui kedai kecil…

Yang harus tersedia banyak piring

Dan cangkir untuk mencairkan udara dingin…

Suara-suaranya akan menidurkan sang pengelana

Bermimpi ia tentang akhir pejalanannya

Ah…sungguh itu khayalan aneh lagi musykil

Lalu mendadak kita merasa apa yang dilakukan Edna dalam kehidupan nyatanya terasa wajar sebab semuanya adalah wujud pemberontakan terhadap ritme sosial masyarakat yang terjebak dalam absurditas. Lewat semuanya ia menegaskan bahwa ia hidup dengan melupakan bayang kematian

Dan segala mengajariku

Untuk berlari dari seringai mata abu-abu

Edna bisa diibaratkan suara puitis dari masa muda yang tidak akan mati, suara pembebasan hak perempuan, sensitive, kuat, dan inspiratif.

***

Petualangan panjang cintanya berakhir dalam uluran Eugne Boissevain, yang dengan kesabaran takterpermanai menyediakan diri menjadi suami, istri, sahabat, orang tua, sekaligus managernya. Mereka menikah pada tahun 1923, tahun terbaik Edna, sebab di tahun itu pula ia menerima penghargaan Pulitzer kategori sastra untuk bukunya The Harp Weaver and Other Poems. Dan sekali lagi ia membuat dunia angkat topi atas pencapaiannya sebagai wanita pertama penerima penghargaan bergengsi itu. Tahun-tahun selanjutnya ia sibuk dalam kegiatan-kegiatan sosial. Mungkin yang paling diingat dunia adalah tindakannya mengutuk eksekusi mati duo pembela hak buruh, Sacco-vanzetti (23 Agustus 1927). Sehari sebelumnya ia menulis “Dead Watch” dan “justice Denied in Massachusett”. Hal inilah yang menarik simpati kaum komunis.

Hingga pada tahun 1944, Edna terserang apa yang disebut nerveous brekdown yang mengakibatkannya tidak dapat lagi menulis. Dan pada tahun 1950 ia terkena stroke, dan meninggal dalam kesendirian tanpa seorangpun yang ada di sampingnya di rumah pribadinya, Steppletop, New York. Perpisahan paling sepi yang ia jalani melebihi semua kesepian sepanjang hidupnya. Namun, ia akan selalu dikenang untuk kuartet “First Fig”nya:

My candle burns at both ends;

It will not last the night;

But ah, my foes, and oh, my friends—

It gives a lovely light!

Lilinku menyala di kedua sumbu;

Setiap malam nun tak akan padam;

Ah, musuhku, oh, kawanku—

Cahayanyalah yang membikin tentram

 

Advertisements