saya memang kecil kokPain and Insane

Menurut tulisan yang saya temukan entah dimana, bahwa kebutuhan paling dasar dari manusia adalah: AKTUALISASI DIRI. Dimana manusia diketahui ada, ada yang tidak sekedar berucap ‘hai. I’m here. Good bye…’. Tapi ada yang diakui, eksis, yang ketika uluk salam dijawab karena pertimbangan ‘ada’ dan ketika hendak melafalkan ‘selamat tinggal’ ditangisi atau setidaknya disesali untuk kemudian dikenang- mungkin inilah yang dimaksud Dee tentang SALJU GURUN. Menurut W.C. Stace, orang -benda juga sah- dikatakan eksis jika bersifat publik, menempati ruang dan terjadi dalam waktu. Artinya, orang yang bisa dialami, dirasakan kehadirannya, menjadi pengalaman indrawi orang lain. Markesot berkaki jenjang, suara jernih, kulit coklat, rahang menonjol yang ada di dalam mimpi saya mempunyai sifat ada, tapi tidak nyata dan tidak pula eksis. Satu2nya cara untuk mengaktualisasikan diri adalah melalui komunikasi. Lazimnya komunikasi jelas lewat bahasa -yang tidak hanya manusia, tapi Tuhan juga demikian. Dia berkomunikasi dengan ciptaannya pun dengan bahasa, ya, kalam wahyu kitab suci itu-

Nah, 90% bahasa yang kita –manusia- pakai justru bukan dari lisan. Ternyata komunikasi sangat luas artinya dengan beragam variasi sarana. Ada yang perlu dicatat, bahwa ketika berkomunikasi kita tidak mengaktualisasi diri sepenuhnya seutuhnya. Artinya, sekalipun komunikasi yang kita lakukan ada dalam bentuk paling ndesit, tradisional dan ketinggalan jaman banget: face to face, tetap ada bagian dalam diri yang tidak tersentuh. Hanya sejuta satu manusia yang mampu dan mau menyajikan the whole packet of him/herself dalam satu satuan waktu dan ruang. Sebab dalam sejarah, orang tidak harus melulu jadi pahlawan (?) yang menurut hemat saya terlalu mahal. Ada ruang gelap dengan tak seorangpun tahu seberapa besar ruang itu. Setiap cahaya yang dibawa masuk akan langsung padam. Tapi bisa dilihat dan dibaca jika ada yang mau menunggu hingga sang mata terbiasa dengan gelap. Ada yang sekali masuk lalu trauma da pula yang sekali masuk dan memutuskan untuk mendiaminya sebab melihat sesuatu yang tak mungkin didapatkan, kata Van Loon

Maka, adanya blog ini bisa jadi sebagai salah satu sarana saya beraktualisasi. Di Edukasi, saya tidak akan punya kuota untuk menulis tentang UDEL. Di lingkungan saya, tidak ada ruag diskusi wacana Pak Guru Mataki.

Bisa jadi blog ini menyajikan the whole crazy in me but a half side of my life. Too much subtile slices although left the deep scar, penetika tidak akan mampu mengkajinya, statistik, apa lagi, TOO MUCH! Sebab yang tersaji di sini hanya irisan2 himpunan dengan saya sebagai semesta (sombreng bgt, ya?). Sebab dengan begitu saya tetap bisa merasa sendiri -yang memang suatu kewajaran-. Di rahim ibu dulu saya sendiri, kelahiran membuat saya amnesia of that adorable moment dan nanti ketika kematian menyonsong (atau saya yang menyongsong kematian?), ia pun akan memberi benturan di kepala saya, benturan yang mengingatkan saya akan ruang bernama rahim ibu: sendiri

Pada akhirnya blog ini ‘hanyalah’ sebuah cara (untuk tetap) bertahan menjadi manusia. Seringnya saya lupa bahwa saya ‘hanya’ manusia dengan segenap lupa dan ingatan blurnya. Seringnya saya ragu bagaimana berkomunikasi dengan sesama, saya bahkan tidak tahu nama lengkung bibir yang diberikan pada saya; senyum atau seringai. Demikian hingga saya terbiasa dengan dengan prestasi ANEH, bahkan GILA dalam benak teman2. Dalam wilayah2 itulah saya diposisikan. Sedikit terhibur dengan tulisan Emha bahwa dalam realitas yang kadar kekacauannya mencapai 90% dibutuhkan orang yang mengalienasi diri agar dapat melihat dengan obyektif -sekalipun dengan kacamata subyek-. Sebab manalah bisa berkaca jika diri kita berada dalam cermin. Harus ada yang namanya jarak, spasi, ruang yang membatasi; batas yang diartikan orang awam dengan aneh.

Monolog Will Smith dalam HITCH

 

Advertisements