Seni;

Belok Kiri, Surga!

Indonesian idol (II) musim 2008 digelar kembali. Dan jumlah peminatnya sangat fantastis menurut saya; ratusan ribu! Secara dari berbagai daerah di Indonesia gitu loh… Ada satu cerita yang datang dari Pak Budi. Beliau ini jebolan UNNES (Universitas Negeri Semarang) jurusan seni dan ambil spesialisasi biola. Beliau ini guru musik SMA tempat adik saya menuntut ilmu. Beliau ini (kayaknya beliau terus, ngga ada kata lain bu’?) iseng2 berhadiah daftar II. Tahukah sobat, berapa nomor urutnya? Seratus empatpuluh enam (siap2 untuk membaca lanjutannya) ribu tigapuluh dua. Ya, nomor yang nanti melekat di dada beliau adalah 164.032. untung hanya iseng2, jika beliau benar2 terobsesi masuk TV, alias IDOL WANNABE, niscaya, kepsek SMA adik saya harus hunting, mengaudisi bahkan, seorang seniman musik yang bersedia sukalila (kayaknya nama desa deh) menjadi akademisi. Malu dong, SMA paporit kok guru musiknya hanya menyandang prestasi ‘tinimbang ora ono’

Kenapa harus demikian? Sebab tidak banyak praktisi seni yang dengan tulus hati mau menjadi akademisi. Apalagi di Inonesia yang mayoritas muslim (hubungannya apa coba?). Ceritanya begini, pada suatu jum’at di sebuah masjid, beliau disakiti orang satu majlis. Apa pasal? Ternyata, oh, ternyata, pak khotib X mengatakan bahwa musik itu haram beserta semua sarana2nya, termasuk gitar. Lha, pak guru kita yang baik hai, lemah lembut & luhur budi ini merasa disentil, lebih tepatnya ditendang. Lho, gitar itu aslinya dari arab. Masa iya orang arab mengharamkan budayanya sendiri. Apalagi Islam itu kan datang sebagai legitimasi kebudayaan yang dulu2 (ini adalah pengaetahuan saya tentang Islam yang mungkin saangat terbatas). Ini kan ngga mungkin bin mustahil. Tentu saja gerutuan ini hanya milik Pak Budi seorang, meskipun saat itu ingin rasanya beliau berlari naik ke mimbar membantah statemen2 manis pak khotib yang terhormat.

Tapi urung, Pak Budi kita ini tidak melakukannya juga. Pak Budi sadar bahwaseni, apalagi pendidikan seni masih terpinggirkan. Ia tak menghasilkan materi, dipandang sebelah mata tak punya reputasi (ada yang tahu ini lirik lagu siapa?). Itu di Indonesia. Darimana beliau mendapat pandangan seperti ini? Sebab beliau orang Indonesia. Beliau itu mengajar 2 jam pelajaran di 24 kelas! Dan cobalah tebak berapa gaji beliau, kurang dari 900rb dalam satu bulan. Sudah gajinya kecil dicaci pula. Jika contohnya demkian, siapa pula yang mau. Mending ikut peruntungan ajang pencarian bakat di tipi. Udah ngetop, dapet duit, gengsi naik, disanjung, dipuja pula. Tapi itu nanti, kalo sudah jawara. Kalo babak workshop aja udah gugur, ya, selamat datang di jalanan. Gitu katanya.

Tapi beliau tetap semangat, disetiap hari sampai nanti, sampai mati (?) ketika melihat anak didiknya, termasuk adik saya, nguber2 beliau untuk minta diajari teknik2 bermusik yangh baik. Gimana dapet soul lagu, gimana main gitar yang MEGANG. Artinya musik yang ngga cuma genjrang-genjreng ngga jelas, seperti saya kalo main. Saya merasakan sendiri gimana susahnya memperoleh jari trampil memetik gitar yang sampai sekarang belom bisa2 juga. Saya hanya bisa memainkan akustik twinkle2, jingle bells, matahari terbenam, ABCD, sama Donna. Thox! Makanya, saya appreciate banget sama orang macam Erwin Gutowo, Dian HP, dan komposer2 lain tak lupa kaum musisi. Lha wong gitar aja jemari saya menebal, berdarah2 malah. Apalagi biola, piano, drum, sampai bikin lagu. Seberapa dahsyat kah otak yang dianugerahkan Gusti Allah untuk mereka? Perlu diketahui, untuk menyanyi berakustik ria itu rumitnya na’udzubillahimin dzalik. Harus ngitung berapa luas ruangan, frekwensi, panjang gelombang dan segala tetek bengek hal yang matematis agar suara terdengan baik dan enak untuk semua audiens (yang juga perlu diitung dan diperkirakan bobotnya berapa!). Subhanallah. Kalo saya sih, cape deee. Nah, segitu rumitnya, ternyata orang romawi berhasil membuat colloseoum di jaman beheula! Yang efek suaranya sangat luar biasa (katanya).

Ini sekedar awal perkenalan seni. Saya rasa sobat2 sudah pada ngerti bahwa seni sangat berperan dalam kehidupan. Ada tiga hal yang harus berjalan sinkron dalam kehidupan dan menjadi segitiga penyangga: estetika, etika, dan logika. Ketiganya ibarat otak kehidupan agar tidak sering mogok. Tanyakan ahli computer apa jadinya computer jika hanya pake satu otak, niscaya sang ahli menjawab ‘mesin berpikir itu akan sering BENGONG alias hang, macet’. Seni itu keindahan dan indah adalah seni itu sendiri. Jika hidup dijalani dengan indah, dilihat dari sisi yang indah, maka akan semua akan serba indah. To see the world with rosy glasses, there’s no bad people nor bad choices, itu kata Letto. Dan proverb ‘yang ada adalah orang jahat’ tidak akan berlaku lagi, setidaknya dalam hidup kita. Emang bener Bu Sati (baca supernova episode PETIR) bilang, surga ada dalam hati. Jika kita menghen-daki surga, maka kita jangan meminta, tapi ciptakan. Nah, jika surga bisa bersemayam dalam hati, kenapa neraka ngga? Nah lo… inget2 kalo realitas dualitas itu masih eksis, depend on dimana kita memijakkan kaki. Sepakat?

Advertisements