Siklus Patah Hati Vs Homo Homini Lupus

Hey, sobat…

Pernah ngerasain apa yang disebut oleh orang Indonesia sebagai sakit hati? Lebih tepatnya PATAH HATI, broken heart. Dengan diksi yang lebih dimengerti, yaitu PUTUS. Putus disini dalam konteks CINTA, bukan putus yang disandingkan dengan kata layangan, apa lagi benang. Namanya juga patah hati,ya nggga sihh??? Saya juga pernah merasakannya sometime and somewhere ago.

Nah, sobat, pada sesi ini saya mau berbagi cerita. Syukur-syukur kalo ada manfaatnya. Sebelum mulai, kita harus menyepakati satu premis. Bahwa saya adalah piranti tradisional dengan kapasitas yang belum ter-up grade secara maksimal, itu satu-satunya premis yang harus kita sepakati. Konsekuensinya, kamu harus memaklumi dengan sadar kelemahan saya. Dan ketika kamu ketawa terpingkal-pingkal, lalu nulis komen2 yang NGEHE, bagi saya itu tak boleh jadi soal. Toh, itu cuma sepenggal dari sejabal perkamen binder yang saya rewrite and reread berulang2 hingga kumal.

Saya tahu rasanya patah hati yang artinya remuk. ‘mak krepyek’ itulah bunyinya. Mirip suara sekilo telor yang kemudian kamu duduki, meninggalkan kulit yang retak (di kemudian hari saya sadar bahwa perumpamaan itu tidak benar, kapan hari itu? Nanti pada akhir tulisan ini akan saya beri tahu perumpamaan yang benar. Sekarang? Lanjutkan saja bacanya ^_^). Lalu hati saya? Saking remuknya hingga setiap kepinganya mampu menembus lubang jarum! Dan saya harus memunguti setiap kepingan yang tak terpermanai itu satu persatu. Tak jarang ia tajam layaknya beling, lalu luh saya mengalir, merinai menganak sungai. Menyusul ingus saya menetes, molor, tak putus2, mirip permen karat. Ih, Jorok! Mau gimana lagi? Dianya keluar sendiri. Untung ngga dibarengi ngiler. Yang ini mah kebangetan.

Fase itu berlangsung 6 jam. 20% dari angka itu, bibir saya menyenandungkan When you’re gone-nya Avril. When you’re gone the words I need to hear to always get me through the day and make it oke… I MISS YOU…Tepat banget. Lalu dalam tempo 2X6 jam, saya mengganti sound track, dari When you’re gone-nya Avril ke Manusia Bodoh (MB)-nya Ada Band. Benar2 bodoh. Hidup sebagai manusia tapi mau2nya berlaku kodok. Tahukah kamu kenapa kodok biasanya digambarkan duduk diam dahar (makan) di atas daun? Itu karena ia malu naik ke darat sebab alat bantu pernafasannya yang beda. Dan takut masuk ke air karena takut diolok2 kaum pisces ‘dasar tak punya pendirian!’. Ya, saya ada antara dunia nyata yang enggan saya tinggali dan dunia tak kasat mata -yang konon merupakan tempat gendruwo Dkk- tempat saya mensimulasi pikiran dalam ruang simulakrum, menyatu dengan sesuatu yang dapat saya sentuh pun tidak. Enam jam kemudian, saya tertawa. Menertawai betapa malangnya saya. Tertawa. Sekalipun itu sadisme terhadap penderitaan saya? Iya. Toh, mau tak mau show must go on. Benar, Mau Tak Mau nya Jagostu saya nobatkan sebagai lagu pengiring fase itu. 3 X 6 jam cukup bagi saya. Dahsyat, bukan sobat? Karena kamu butuh berbulan2 untuk menurunkan kasta sakit itu, dari luka menjadi sekedar belang, spot, bintik item bekas luka (ini suudzon saya, mudah2an salah).

Selesai? Selesai! Tapi tunggu dulu, sobat, saya tak sehebat itu. Perlu diketahui, 3 X 6 itu adalah sebuah siklus, dan yang namanya siklus, pasti ia berputar berulang2 setiap kali saya mendapatinya satu majlis dengan saya. Ternyata itu siklus kecil. Dan tahukah kamu siklus besarnya bagaimana? Adalah ketika saya dalam beberapa kali saya harus mendapati cetak biru wajahnya. Terlepas dari konsep dunia ide plato, sebab wajahnya ada dimana2. Di kolong tempat tidur, di balik lipatan baju, bahkan di dalam tumpuka kertas tugas, saya sampai heran, pilihan lokasinya kok ngga strategis banget. Terlepas dari keheranan itu, saya butuh lagu baru. Kangen-nya Rasty- terlepas pula akan kondisi suara dan (mungkin) letak serta ukuran pita suaranya yang menurut saya beda tipis dengan punya saya, secara teman2 saya selalu merasa terganggu ketika saya mencoba sepenuh hati melantunkan tembang- menjadi tembang sebelum bobo. Dan siklus besar inilah yang memakan waktu paling lama. Berapa jam? RATUSAN? LEBBBIHH!!! Itung aja 360 X 24. Ya, saudara-saudara, saya butuh waktu hampir satu tahun. Busyettt! Enaknya dikit, sakitnya lama kalo kata Jamrud. Dan kesimpulan saya, tidak ada siklus yang lebih sialan dari siklus anak pinak itu. Ceritanya begini

Dia tiba2 ada dan saya mau2 saja menangis dan bercerita tentang state saya apa adanya. Sangat biasa dan benar2 sederhana bukan? Tapi jangan tanya sakitnya seperti apa ketika BIASA itu hilang. Coba saja rasakan sendiri dengan cara lompat dari lantai 3. Lantai tiga, ngga keren sama sekali sih jika dibanding lantai 13. tapi bukan di numeria lantainya yang ingin saya tekankan, di patah tulangnya yang ingin saya garis bawahi, di tengkoraknya yang retak yang saya tanyakan, di gegar otaknya yang saya cemaskan. Kira2 sakit sejenis itu. Jatuhnya sudah basi untuk jadi bahan berita, tapi sakitnya, recovery-nya. Patah hati adalah media massa tanpa dead line, ngga tau sampai kapan sakitnya akan hilang, entah dikumpulkan lalu dikremasi atau apa. Saat itu saya tidak tahu sampai kapan akan terus menderita begitu, teronggok di pojok dengan napkin jorok. Merana, seperti tai. My immortal-nya evanescence benar2 maut, MEGANG banget untuk state saya saat itu. Sakit itulah keabadian saya. The wounds won’t seem to heal- the pain is just too real- there’s just too much that time cannot erase.

Begitulah awalnya. Tak disangka2 sama seperti akhirnya. Easy come easy go. Demikian sesi cerita saya. Selanjutnya, mari kita masuk sesi presentasi

Nah, ternyata sakit itu gampang ilangnya kalo kita tahu landasan filosofisnya. Mau tahu? HOMO HOMINI LUPUS (HHL), manusia adalah serigala bagi manusia lain, proverb yang dikenalkan oleh Plautus (184 B. C.) melalui drama dengan judul yang itu juga. Lalu Thomas Hobbes mempopulerkan kembali di “De cive, Epistola dedicatoria”. Proverb ini benar2 mengerikan dan relevan dengan state global saat ini. Bahwa manusia benar2 kejam, bahkan kepada manusia yang lain. Yang mereka cintai adalah tangis. Yang dinanti adalah sakit, penderitaan, bencana (kok jadi nglangut gini, ya?). Itu kalo kita bener2 terpuruk, seperti saya. Apa lagi kalo pengalaman pertama. kalo udah biasa dan BISA sih, cukup HOMO HOMINI SOCIUS (HHS), yang setahu saya pencetusnya adalah prof. Driyarkara. Bagi sobat2 penggila ilmu sosial, silakan memberi masukan, misalnya sintesa dari 2 teori berlawanan itu.

Saya jadi ingat dengan pelajaran sosiologi SMA. Dulu pak guru bilang bahwa sebagai manusia selayaknyalah kita menjadi teman, bukan serigala bagi manusia lain. Maksudnya, ya, merujuk HHL itu. Saat itu saya setuju dengan tanpa mengacungkan jari telunjuk. Sampai akhirnya saya harus merasakan siklus anak pinak sialan itu. Saya benar2 tidak sepakat jika HHL dilarang. Artinya, kalo ngga bisa lupa, bunuh aja dia. Emang kamu mau menjadi mumi? Selongsong tanpa jiwa. Kalo udah gini kan lebih kosong ketimbang sundel bolong? Nah lo… mau kamu yang mati apa dia yang mati. Maksudnya anggap dia sudah mati. Ngapain mahluk paling brengsek di dunia dibiarkan hidup? Maaf2 saja. Gitu lho maksudnya. (Sepakat Bapak guru? Mudah2an iya). Dalm konteks tertentu, hal2 yang aslinya dilarang boleh dengan sadar dilanggar. Wong dalam agama pun demikian. Mau bukti? Buka surat al baqarah juz2, ayat tentang makanan yang dilarang. Kenapa? Kerena Gusti Allah tidak ndeso.

Setelah dia mati, apa yang terjadi? Saya banyak merenung. Ngga banyak2 sih, paling kalo pas pulang kuliah melihat benda2 yang kebetulan tertangkap mata; kok bisa, ya saya sehancur itu? Kok bisa, ya, dia sekuat itu, menghancurkan saya, menagacaukan segalanya? Kok tega sekali, padahal hidup saya sudah kacau? Akhirnya; kok bego banget, ya, saya, mau2nya dikacaukan? Padahal ia tak punya wewenang apapun untuk berlaku demikian. Eh… bukankah saya sendiri yang bersedia? Bukankah saya sendiri yang membagikan satu keping hidup saya padanya? Keping yang saya ambil paling tengah, yang saya harapkan dijaga sebaik2nya. Tapi ternyata keping itu tak lebih berharga dari kancing baju, yang kalo ilang akan membuka bagian2 tertentu yang mungkin diinginkan. Keping itu dibuangnya, dicampakkannya. Ketika saya lihat kembali hati saya, disana ada yang bolong, padahal seharusnya ada penyangga. Ketika saya bertanya ‘kok bisa bolong, ya?’ mendadak semuanya runtuh. Mirip susunan balok mini di iklan pepsoden. Satu penyangga diambil, maka…. brukk!! semuanya kacau. Sayangnya bolong kecil itu tak bisa ditambal dengan hanya satu olesan pepsoden, lebih dari olesan, perekat. Tapi percuma, wong yang mau direkatkan ngga ada. Akhirnya harus buat formasi balok hati yang baru, yang tidak ada bolongnya, yang tidak butuk keping hilang tadi. Gimana caranya? Untuk memulai dari awal, seharusnya mengambil langkah yang benar2 baru. Suatu kekeliruan apabila kita memandang solusi dari setiap masalah adalah dengan menarik garis lurus untuk menghubungkan titik awal dan akhir.

Sekian sesi presentasi kali ini, terimakasih.

 

Advertisements