February 2008


HAMBA YANG MANIS

Beberapa saat yang lalu teman saya berpesan yang isinya demikian ‘jadilah wanita yang manis yang berbakti pada suamimu, dan mampu mendidik anak-anak mu yah..’.Ketika itu saya tidak ambil pusing sebab dia tidak bertendensi apa2(ini khusnudzon saya, semoga benar). Lucu saja mengingat status saya yang masih perjaka(?). Dan efek lucu itu membahana 24 jam kemudian. Eits,tunggu dulu. Jangan buru2 menyimpulkan kalo saya lemot, apalagi lola. Kenapa efek itu bisa sedemikian membahana adalah disebabkan adanya ekstensifikasi konteks. Sehari usai saya membaca pesan itu, saya dilihati (maksudnya dikasih lihat) sohibah, saya sebuah buku yang sudah terbuka halamannya :129. awalnya saya malas, tampilannya tabel2 gitu. Pasti statistik masa haid atau masa idah (bukan mas saidun lho?), piker saya. Wong judulnya saja Berburu Pahala Ketika Haid. Ternyata momen ini adalah aplikasi langsung dalil Qur’an ‘ijnanibu katsiran minadz dzan’ ‘jauhilah kebanyakan dari prasangka’. Karena ternyata kalimat bisa diletakkan di dalamnya. Ya, kalimat2 yang beberapa terasa sumbang bagi orang desa seperti saya (lihat perkamen: lampiran tab.1). Sedari kecil, saya tidak pernah disuguhi siaran langsung adegan ibu menyambut bapak pulang lalu cipika cipiki, ask2, tell2, talk2, apalagi sampai ‘melucuti’ baju kerja bapak. Bagi saya semua itu hanya ada dalam sinetron, jauh dari realitas hidup saya. Sebab kasusnya adalah demikian; bapak yang dari sawah beepotan lumpur, bau pestisida dengan tudung yang hanya menampakkan mata –biar ngga keracunan- , tak jarang kantong celananya dipenuhi walang, wereng, bahkan curut. Dan dengan piranti favorit yang selalu menyertainya; cangkul dan arit.

Saya tidak bisa bayangkan acara serah terima cangkul dan arit yang berpindah dari tangan bapak ke ibu. Lalu ritual duduk2 menanyakan ‘hari’ yang seharusnya terjadi di kasur atau sofa pindah lokasi di kolam lele dengan melemparkan walang, wereng, dan curut. Jika barometer keluarga harmonis-romantis adalah lilin (apalagi pake emblem ‘aroma theraphy’), wangi2an dan kembang, maka roll keseharian ibu bapak saya tadi tidak lolos kualifikasi itu dengan stiker ‘belum cukup umur’

Ibu tampil cantik mengenakan gaun terbaik + wangi di rumah? Sungguh musykil. Apalagi jika masih direpotkan dengan kehadiran bayi mungil, yang ada, ya, pesing. Mengajak anak2 cepat tidur? Justru sebaliknya, ibu saya yang tidur duluan menitipkan anak2nya pada asuhan suster tipi yang baik hati.

Tapi sohibah saya yang lain berpendapat lain ‘ini dia, rahaisa nikah sampai jannah!’

Yang lain lagi menyahut ‘Iya. Jannah dengan predikat mati mudah naza’ susah?’ maksud sohibah saya yang ini,kelaparan adalah jalan paling mudah menuju kematian sekaligus paling menyakitka dengan kadar penderitaan ranking pertama. Ia berkata demikian karena lapangan pekerjaan (dalam arti harfiah) Bapaknya di tambak. Sekarang, mari kita profilkan dulu sang ayah.

Tampak depan: topi (mirip yang dipake Ihsan Idol di tipi pas main sinetron), slipper, baju lusuh dengan tali yang tersampir di pundak kanan. Dan selarit senyum nangkring di bibir. Beliau nangkring pula di sepeda ontanya.

Tampak samping: hampir sama, hanya apa yang menggantung di pundak kanannya ketahuan. Namanya KERONDO URANG. Bentuknya mblenduk, mirip guci Cina gitu. Piranti lainnya adalah serok, saya tidak tahu apa bahasa indonesianya.

Nah, begini adegannya. Ketika Sang Ayah pulang, Ibu mengambil alih kerondo urang. Jangan bayangkan adegan copot sepatu atau sandal, sebab si sandal sudah naik pangkat, ia sekasta dengan udang kini; di dalam kerondo. Bagaimana kabar anak2? Oh, ternyata mereka sudah siap di samping sumur, menunggu operan udang dari Ibu. Keluarga batih itu sembari menghirup amis udang, mengaudisi udang. Apakah nantinya masuk ember jambon, hitam, putih (Saya ragu dengan warna ini, mungkin lebih tepatnya ‘krem’), ijo, atau wajan. Pada saat yang sama, Sang Ayah menyeruput teh poci melati angetnya di belahan rumah yang lain. Itu dulu. Sekarang? Konon rumah itu menebarkan wangi yang beda pasca pembangunan bandara Ahmad Yani. Jika dulu bau amis yang dinikmati tiap sore, sekarang berganti busuk-kecing-nya roti jamuran. Tambak itu sekarang ‘ditanami’ bandeng debab suplai udang dari laut turun drastis. Jika dulu bisa dapat empat ember besar, sekarang paling cuma seember cat. Panennya tidak lagi tiap sore. Bandeng bukan udang yang langsung didistribusikan laut, bandeng butuh waktu untuk tumbuh dan mencerna nutrisi. Apa nutrisinya? Kalo banyak duit, pakan-nya made in pabrik. Tapi kalo duitnya ngga banyak2 amat, ya roti busuk itu, yang kalo beli bisa sampai satu sak. Anak2 bertugas membuka bungkus dan melumatnya menjadi serpihan2 kecil. Gerakannya mirip kalo membuat api tanpa korek, atau memisahkan kapuk dari klenthengnya, yang semuanya manual.

‘Yang halus, Ni’ pesan sang ayah kepada anak, sebab anaknya, yang juga sohibah saya ini namanya Nia. Sebabnya kenapa kudu kecil dikarenakan faktor malasnya si bandeng gosok gigi, makanya, roti aja ngga bisa ngunyah, maunya sistem langsung telan.

Jika barometer keluarga harmonis-romantis adalah lilin (apalagi pake emblem ‘aroma theraphy’), wangi2an dan kembang, maka roll keseharian keluarga mb’ Nia ini pun tidak lolos kualifikasi itu dengan stiker ‘belum cukup umur’ lalu teman yang lain tadi berfatwa kembali ‘bener juga. Bapak saya berprofesi sebagai bapak rumah tangga. Justru ibu yang saban hari kelayapan di pasar. Nungguin took sembako tujuh hari kerja. Tapi sampai sekarang belum pernah denger tuh,niatan pisah dari keduanya. Tapi kalo disuruh milih antara yang wangi berseri apa yang lusuh kumal..’

‘Kalo sudah begini, ‘wa ‘asa an takrahu syai’an fahua khirul lakum wa ‘asa antuhibbu sya’a fahuwa syarrul lakum’ ujar mb Nia ber-qiraah ria

‘Maksudnya’ kompak kami mendeklarasikan kecerdasan kami

‘Hidup tampaknya bukan berarti memperoleh hak untuk mengangankan suatu idaman ideal. Qola Einstein ‘ada dua cara menghayati hidup. Yang satu adalah seolah2 mukjizat itu tak pernah ada. Yang lain adalah seolah2 segala sesuatu merupakan mukjizat. Tinggal pilih yang mana.’

‘Tarjimnya panjang banget, yak?’

‘Intinya gini. Kalo ditarik ke garis makro, manusia itu hidup tanpa punya bargaining position di depan Gusti Allah. Kamu yang jelek pendek ngga bisa memilih menjadi Mulan yang dinobatkan sebagai mehluk tuhan paling seksi versi Dhani atau jadi anak siapa misalnya. Demikian juga Mulan, dia ngga bias milih jadi Maia yang bisa nyiptain lagu. Kita ini paralel dengan semua mahluk; lahir, hidup, mati…’

‘Kalo sudah begini, bisa tambah panjang sakit hatinya.’ Bisik saya pada sohibah saya yang lain. Dan dengan kode anggukan kepala, suatu premis yang kami sepakati sebagai

‘Permisi dulu, yak? Dah waktunya nonton Cahaya ’

‘Ku permisi juga. Mo nangkapin ayam tetangga’

Upaya terakhir nan universal membungkam mulut orang (sok)pintar

PENGELANA SUNYI TANPA TUHAN

Edna, St. Vincent, Edna lahir pada tanggal 22 Pebruari 1892 di sebuah kota kecil Rockland, Negara bagian Amerika Serikat Maine. Putri dari pasangan Henri Tollman Edna, seorang guru dan Cora Buzelle. Pada tahun 1900 mereka bercerai dan Cora pindah ke Camden dengan membawa serta Edna dan saudara perempuan yang lain. Cora seorang wanita pekerja keras, sebagai suster, ia sering kerja lembur untu menafkahi anak-anaknya. Ia dengan sadar memacu anak-anknya untuk menyuai musik dan buku. Satu hal yang selalu ia tekankan adalah kemandirian.

Bakat mengantarnya masuk Vassar, salah satu perguruan tinggi paling prestisius di New York, Amerika Serikat pada tahun 1913. Di sini ia seolah menemukan jalan lurus menuju tangga popularitas, tempat yang menempa bakatnya. Di Vassar, ia mempelajari kesusastraan dan bahasa lebih dalam, menulis puisi dan berbagai naskah drama yang diperankannya sendiri. Dalam perjalanan studinya yang penuh pemberontakan terhadap peraturan universitas, ia tetap mampu lulus pada tahun ke empat. Hal itu membuktikan dia memang pantas menjadi penyair dunia. Kolaborasi bakat dan pendidikan yang mengagumkan.

Usai lulus, ia menerbitkan banyak kumpulan sajak, salah satunya adalah “Renascence and Other Poems” yang terbit tahun 1917. pada tahun ini dan sesudahnya ia banyak digosipkan memiliki hubungan singkat, baik dengan lawan jenis, maupun sesama jenis, pemabuk, dan junkies. Namun apalah artinya ketidaksalehan seorang hamba bagi dunia sastra? Karena disorientasi bukan pilihan dan biseksual bukan kejahatan.

Terlepas dari perilaku sosial dan seksual yang agak menyimpang, dunia tetap mengaguminya. Kepekaannya terhadap realitas sosial di sekitar ditunjang penguasaan teknik berpuisi yang tinggi menjadikan sajaknya tak lekang dimakan waktu. Protesnya terhadap modernisasi akan selalu menjadi topik yang up to date sampai kapan pun. Setiap kata dalam sajaknya merinai menganak sungai, indah dengan campuran diksi arkais dan symbol-simbol kekinian.

Manusia mematut diri lalu pergi

Entah ke kota entah ke pesta

Aku hanya duduk di kursi

Pikiranku bereaksi; biasass

Kadang jongkok, lain waktu berdiri; mengamati

Problema kecil; baju apa atau sepatu mana yang hendak kubawa

Padahal banyak manusia di luar sana kedinginan, jangan jauh-jauh, bisa jadi hanya diseberang pintu

Kepedihan tak beda dengan gerimis sederhana

Terus menerus dan menggetarkan jiwa

Manusia meliuk dan berteriak serak dalam lilitan duri

Esok, mereka akan temukan kembali tangis

Bukan keras, bukan pula lirih

Dan rintihan itu ternyata dianggap biasa, seolah penderitaan adalah konvensi publik. Seolah miskin adalah perjanjian atas kaya. Atau, derita adalah takdir Tuhan. Dan dengan kalimat sakti mandra guna di akhir sajak “Sorrow” Edna menegaskan kembali kegusarannya

Hanya tangis yang sama dan biasa

Meski demikian, derita masyarakat tak lantas menjadikannya terpelintir dalam paradoks rumit agama. Ia pun tak tergesa menarik kesimpulan; itulah garis hidup yang harus mereka lalui

Amankah bagi gubug reot ditopang tatal kabir

Hei, lihat dan jadilah saksi permai istanaku biar berfondasi pasir

Bisa jadi sajak di atas jawaban atas keMahatakterbatasan Tuhan, saking Maha-nya hingga menunjukkan lewat penderitaan. Bunyi yang seakan berasal dari bible perjanjian baru yang berbicara kira-kira seperti ini bangunlah rumahmu diatas fondasi yang kokoh berbatu atau pasir.

Terlepas apakah itu ironi terhadap agama atau bukan, “second fig” di atas tetap bernas keindahan, dan memang Edna memuja keindahan. Dan Renascance, karya pertamanya langsung mengukuhkan bahwa romantisme Edna bukan selaput tipis nan rapuh yang ia sepuh di bibir, sekedar lips service atau lips surface.

Dalam setiap karya, ia tidak pernah berpretensi untuk menjadi Yang Mahasuci, Mahaindah, apa lagi Mahasegala. Ia hanya menjadi pecinta biasa, tanpa aksesori Maha. Mencinta hanya untuk mencinta, bukan untuk yang lain; memiliki misalnya

Kan kusentuh seratus bunga

Tanpa memungut satu pun

Representasi bahwa cinta bukan penjara. Seperti lazimnya definasi masyarakat patriarki yang selalu ia kritik

Semenjak kecilku aku belajar

Hingga kutemu kecantikan yang akan selamanya lekat

Kuat, terpatri dalam kelamnya sanubari

Kecantikan yang hanya merunut dari anggapan masyarakat. Dan Edna benci itu.

***

Di tengah keindahan yang ia gores bermedia kata, Edna menjumpai sejumput luka. Suatu sakit yang hanya ia dan sakit itu sendiri yang tahu betapa dalam bekasnya

Hujan, ujarku, betapa baiknya ia mau bertamu

Dan berbincang denganku di rumah baruku

Luka itu bernama kesepian

Aku berdoa agar aku sehidup ia

Mengecup lentik jejari hujan

Membasuh mataku dengan sinar

….

Menghela wangi angin yang segar

Luka itu bernama penantian. Hidupnya ia umpamakan musafir yang hanya singgah di kedai untuk mendengar suara yang melenakan

Aku menunggui kedai kecil…

Yang harus tersedia banyak piring

Dan cangkir untuk mencairkan udara dingin…

Suara-suaranya akan menidurkan sang pengelana

Bermimpi ia tentang akhir pejalanannya

Ah…sungguh itu khayalan aneh lagi musykil

Lalu mendadak kita merasa apa yang dilakukan Edna dalam kehidupan nyatanya terasa wajar sebab semuanya adalah wujud pemberontakan terhadap ritme sosial masyarakat yang terjebak dalam absurditas. Lewat semuanya ia menegaskan bahwa ia hidup dengan melupakan bayang kematian

Dan segala mengajariku

Untuk berlari dari seringai mata abu-abu

Edna bisa diibaratkan suara puitis dari masa muda yang tidak akan mati, suara pembebasan hak perempuan, sensitive, kuat, dan inspiratif.

***

Petualangan panjang cintanya berakhir dalam uluran Eugne Boissevain, yang dengan kesabaran takterpermanai menyediakan diri menjadi suami, istri, sahabat, orang tua, sekaligus managernya. Mereka menikah pada tahun 1923, tahun terbaik Edna, sebab di tahun itu pula ia menerima penghargaan Pulitzer kategori sastra untuk bukunya The Harp Weaver and Other Poems. Dan sekali lagi ia membuat dunia angkat topi atas pencapaiannya sebagai wanita pertama penerima penghargaan bergengsi itu. Tahun-tahun selanjutnya ia sibuk dalam kegiatan-kegiatan sosial. Mungkin yang paling diingat dunia adalah tindakannya mengutuk eksekusi mati duo pembela hak buruh, Sacco-vanzetti (23 Agustus 1927). Sehari sebelumnya ia menulis “Dead Watch” dan “justice Denied in Massachusett”. Hal inilah yang menarik simpati kaum komunis.

Hingga pada tahun 1944, Edna terserang apa yang disebut nerveous brekdown yang mengakibatkannya tidak dapat lagi menulis. Dan pada tahun 1950 ia terkena stroke, dan meninggal dalam kesendirian tanpa seorangpun yang ada di sampingnya di rumah pribadinya, Steppletop, New York. Perpisahan paling sepi yang ia jalani melebihi semua kesepian sepanjang hidupnya. Namun, ia akan selalu dikenang untuk kuartet “First Fig”nya:

My candle burns at both ends;

It will not last the night;

But ah, my foes, and oh, my friends—

It gives a lovely light!

Lilinku menyala di kedua sumbu;

Setiap malam nun tak akan padam;

Ah, musuhku, oh, kawanku—

Cahayanyalah yang membikin tentram

 

Seni;

Belok Kiri, Surga!

Indonesian idol (II) musim 2008 digelar kembali. Dan jumlah peminatnya sangat fantastis menurut saya; ratusan ribu! Secara dari berbagai daerah di Indonesia gitu loh… Ada satu cerita yang datang dari Pak Budi. Beliau ini jebolan UNNES (Universitas Negeri Semarang) jurusan seni dan ambil spesialisasi biola. Beliau ini guru musik SMA tempat adik saya menuntut ilmu. Beliau ini (kayaknya beliau terus, ngga ada kata lain bu’?) iseng2 berhadiah daftar II. Tahukah sobat, berapa nomor urutnya? (more…)

saya memang kecil kokPain and Insane

Menurut tulisan yang saya temukan entah dimana, bahwa kebutuhan paling dasar dari manusia adalah: AKTUALISASI DIRI. Dimana manusia diketahui ada, ada yang tidak sekedar berucap ‘hai. I’m here. Good bye…’. Tapi ada yang diakui, eksis, yang ketika uluk salam dijawab karena pertimbangan ‘ada’ dan ketika hendak melafalkan ‘selamat tinggal’ ditangisi atau setidaknya disesali untuk kemudian dikenang- mungkin inilah yang dimaksud Dee tentang SALJU GURUN. Menurut W.C. Stace, orang -benda juga sah- dikatakan eksis jika bersifat publik, menempati ruang dan terjadi dalam waktu. Artinya, orang yang bisa dialami, dirasakan kehadirannya, menjadi pengalaman indrawi orang lain. Markesot berkaki jenjang, suara jernih, kulit coklat, rahang menonjol yang ada di dalam mimpi saya mempunyai sifat ada, tapi tidak nyata dan tidak pula eksis. Satu2nya cara untuk mengaktualisasikan diri adalah melalui komunikasi. Lazimnya komunikasi jelas lewat bahasa -yang tidak hanya manusia, tapi Tuhan juga demikian. Dia berkomunikasi dengan ciptaannya pun dengan bahasa, ya, kalam wahyu kitab suci itu-

Nah, 90% bahasa yang kita –manusia- pakai justru bukan dari lisan. Ternyata komunikasi sangat luas artinya dengan beragam variasi sarana. Ada yang perlu dicatat, bahwa ketika berkomunikasi kita tidak mengaktualisasi diri sepenuhnya seutuhnya. Artinya, sekalipun komunikasi yang kita lakukan ada dalam bentuk paling ndesit, tradisional dan ketinggalan jaman banget: face to face, tetap ada bagian dalam diri yang tidak tersentuh. Hanya sejuta satu manusia yang mampu dan mau menyajikan the whole packet of him/herself dalam satu satuan waktu dan ruang. Sebab dalam sejarah, orang tidak harus melulu jadi pahlawan (?) yang menurut hemat saya terlalu mahal. Ada ruang gelap dengan tak seorangpun tahu seberapa besar ruang itu. Setiap cahaya yang dibawa masuk akan langsung padam. Tapi bisa dilihat dan dibaca jika ada yang mau menunggu hingga sang mata terbiasa dengan gelap. Ada yang sekali masuk lalu trauma da pula yang sekali masuk dan memutuskan untuk mendiaminya sebab melihat sesuatu yang tak mungkin didapatkan, kata Van Loon

Maka, adanya blog ini bisa jadi sebagai salah satu sarana saya beraktualisasi. Di Edukasi, saya tidak akan punya kuota untuk menulis tentang UDEL. Di lingkungan saya, tidak ada ruag diskusi wacana Pak Guru Mataki.

Bisa jadi blog ini menyajikan the whole crazy in me but a half side of my life. Too much subtile slices although left the deep scar, penetika tidak akan mampu mengkajinya, statistik, apa lagi, TOO MUCH! Sebab yang tersaji di sini hanya irisan2 himpunan dengan saya sebagai semesta (sombreng bgt, ya?). Sebab dengan begitu saya tetap bisa merasa sendiri -yang memang suatu kewajaran-. Di rahim ibu dulu saya sendiri, kelahiran membuat saya amnesia of that adorable moment dan nanti ketika kematian menyonsong (atau saya yang menyongsong kematian?), ia pun akan memberi benturan di kepala saya, benturan yang mengingatkan saya akan ruang bernama rahim ibu: sendiri

Pada akhirnya blog ini ‘hanyalah’ sebuah cara (untuk tetap) bertahan menjadi manusia. Seringnya saya lupa bahwa saya ‘hanya’ manusia dengan segenap lupa dan ingatan blurnya. Seringnya saya ragu bagaimana berkomunikasi dengan sesama, saya bahkan tidak tahu nama lengkung bibir yang diberikan pada saya; senyum atau seringai. Demikian hingga saya terbiasa dengan dengan prestasi ANEH, bahkan GILA dalam benak teman2. Dalam wilayah2 itulah saya diposisikan. Sedikit terhibur dengan tulisan Emha bahwa dalam realitas yang kadar kekacauannya mencapai 90% dibutuhkan orang yang mengalienasi diri agar dapat melihat dengan obyektif -sekalipun dengan kacamata subyek-. Sebab manalah bisa berkaca jika diri kita berada dalam cermin. Harus ada yang namanya jarak, spasi, ruang yang membatasi; batas yang diartikan orang awam dengan aneh.

Monolog Will Smith dalam HITCH

 

Siklus Patah Hati Vs Homo Homini Lupus

Hey, sobat…

Pernah ngerasain apa yang disebut oleh orang Indonesia sebagai sakit hati? Lebih tepatnya PATAH HATI, broken heart. Dengan diksi yang lebih dimengerti, yaitu PUTUS. Putus disini dalam konteks CINTA, bukan putus yang disandingkan dengan kata layangan, apa lagi benang. Namanya juga patah hati,ya nggga sihh??? Saya juga pernah merasakannya sometime and somewhere ago.

Nah, sobat, pada sesi ini saya mau berbagi cerita. Syukur-syukur kalo ada manfaatnya. Sebelum mulai, kita harus menyepakati satu premis. Bahwa saya adalah piranti tradisional dengan kapasitas yang belum ter-up grade secara maksimal, itu satu-satunya premis yang harus kita sepakati. Konsekuensinya, kamu harus memaklumi dengan sadar kelemahan saya. Dan ketika kamu ketawa terpingkal-pingkal, lalu nulis komen2 yang NGEHE, bagi saya itu tak boleh jadi soal. Toh, itu cuma sepenggal dari sejabal perkamen binder yang saya rewrite and reread berulang2 hingga kumal.

Saya tahu rasanya patah hati yang artinya remuk. ‘mak krepyek’ itulah bunyinya. Mirip suara sekilo telor yang kemudian kamu duduki, meninggalkan kulit yang retak (di kemudian hari saya sadar bahwa perumpamaan itu tidak benar, kapan hari itu? Nanti pada akhir tulisan ini akan saya beri tahu perumpamaan yang benar. Sekarang? Lanjutkan saja bacanya ^_^). Lalu hati saya? Saking remuknya hingga setiap kepinganya mampu menembus lubang jarum! Dan saya harus memunguti setiap kepingan yang tak terpermanai itu satu persatu. Tak jarang ia tajam layaknya beling, lalu luh saya mengalir, merinai menganak sungai. Menyusul ingus saya menetes, molor, tak putus2, mirip permen karat. Ih, Jorok! Mau gimana lagi? Dianya keluar sendiri. Untung ngga dibarengi ngiler. Yang ini mah kebangetan.

Fase itu berlangsung 6 jam. 20% dari angka itu, bibir saya menyenandungkan When you’re gone-nya Avril. When you’re gone the words I need to hear to always get me through the day and make it oke… I MISS YOU…Tepat banget. Lalu dalam tempo 2X6 jam, saya mengganti sound track, dari When you’re gone-nya Avril ke Manusia Bodoh (MB)-nya Ada Band. Benar2 bodoh. Hidup sebagai manusia tapi mau2nya berlaku kodok. Tahukah kamu kenapa kodok biasanya digambarkan duduk diam dahar (makan) di atas daun? Itu karena ia malu naik ke darat sebab alat bantu pernafasannya yang beda. Dan takut masuk ke air karena takut diolok2 kaum pisces ‘dasar tak punya pendirian!’. Ya, saya ada antara dunia nyata yang enggan saya tinggali dan dunia tak kasat mata -yang konon merupakan tempat gendruwo Dkk- tempat saya mensimulasi pikiran dalam ruang simulakrum, menyatu dengan sesuatu yang dapat saya sentuh pun tidak. Enam jam kemudian, saya tertawa. Menertawai betapa malangnya saya. Tertawa. Sekalipun itu sadisme terhadap penderitaan saya? Iya. Toh, mau tak mau show must go on. Benar, Mau Tak Mau nya Jagostu saya nobatkan sebagai lagu pengiring fase itu. 3 X 6 jam cukup bagi saya. Dahsyat, bukan sobat? Karena kamu butuh berbulan2 untuk menurunkan kasta sakit itu, dari luka menjadi sekedar belang, spot, bintik item bekas luka (ini suudzon saya, mudah2an salah).

Selesai? Selesai! Tapi tunggu dulu, sobat, saya tak sehebat itu. Perlu diketahui, 3 X 6 itu adalah sebuah siklus, dan yang namanya siklus, pasti ia berputar berulang2 setiap kali saya mendapatinya satu majlis dengan saya. Ternyata itu siklus kecil. Dan tahukah kamu siklus besarnya bagaimana? Adalah ketika saya dalam beberapa kali saya harus mendapati cetak biru wajahnya. Terlepas dari konsep dunia ide plato, sebab wajahnya ada dimana2. Di kolong tempat tidur, di balik lipatan baju, bahkan di dalam tumpuka kertas tugas, saya sampai heran, pilihan lokasinya kok ngga strategis banget. Terlepas dari keheranan itu, saya butuh lagu baru. Kangen-nya Rasty- terlepas pula akan kondisi suara dan (mungkin) letak serta ukuran pita suaranya yang menurut saya beda tipis dengan punya saya, secara teman2 saya selalu merasa terganggu ketika saya mencoba sepenuh hati melantunkan tembang- menjadi tembang sebelum bobo. Dan siklus besar inilah yang memakan waktu paling lama. Berapa jam? RATUSAN? LEBBBIHH!!! Itung aja 360 X 24. Ya, saudara-saudara, saya butuh waktu hampir satu tahun. Busyettt! Enaknya dikit, sakitnya lama kalo kata Jamrud. Dan kesimpulan saya, tidak ada siklus yang lebih sialan dari siklus anak pinak itu. Ceritanya begini

Dia tiba2 ada dan saya mau2 saja menangis dan bercerita tentang state saya apa adanya. Sangat biasa dan benar2 sederhana bukan? Tapi jangan tanya sakitnya seperti apa ketika BIASA itu hilang. Coba saja rasakan sendiri dengan cara lompat dari lantai 3. Lantai tiga, ngga keren sama sekali sih jika dibanding lantai 13. tapi bukan di numeria lantainya yang ingin saya tekankan, di patah tulangnya yang ingin saya garis bawahi, di tengkoraknya yang retak yang saya tanyakan, di gegar otaknya yang saya cemaskan. Kira2 sakit sejenis itu. Jatuhnya sudah basi untuk jadi bahan berita, tapi sakitnya, recovery-nya. Patah hati adalah media massa tanpa dead line, ngga tau sampai kapan sakitnya akan hilang, entah dikumpulkan lalu dikremasi atau apa. Saat itu saya tidak tahu sampai kapan akan terus menderita begitu, teronggok di pojok dengan napkin jorok. Merana, seperti tai. My immortal-nya evanescence benar2 maut, MEGANG banget untuk state saya saat itu. Sakit itulah keabadian saya. The wounds won’t seem to heal- the pain is just too real- there’s just too much that time cannot erase.

Begitulah awalnya. Tak disangka2 sama seperti akhirnya. Easy come easy go. Demikian sesi cerita saya. Selanjutnya, mari kita masuk sesi presentasi

Nah, ternyata sakit itu gampang ilangnya kalo kita tahu landasan filosofisnya. Mau tahu? HOMO HOMINI LUPUS (HHL), manusia adalah serigala bagi manusia lain, proverb yang dikenalkan oleh Plautus (184 B. C.) melalui drama dengan judul yang itu juga. Lalu Thomas Hobbes mempopulerkan kembali di “De cive, Epistola dedicatoria”. Proverb ini benar2 mengerikan dan relevan dengan state global saat ini. Bahwa manusia benar2 kejam, bahkan kepada manusia yang lain. Yang mereka cintai adalah tangis. Yang dinanti adalah sakit, penderitaan, bencana (kok jadi nglangut gini, ya?). Itu kalo kita bener2 terpuruk, seperti saya. Apa lagi kalo pengalaman pertama. kalo udah biasa dan BISA sih, cukup HOMO HOMINI SOCIUS (HHS), yang setahu saya pencetusnya adalah prof. Driyarkara. Bagi sobat2 penggila ilmu sosial, silakan memberi masukan, misalnya sintesa dari 2 teori berlawanan itu.

Saya jadi ingat dengan pelajaran sosiologi SMA. Dulu pak guru bilang bahwa sebagai manusia selayaknyalah kita menjadi teman, bukan serigala bagi manusia lain. Maksudnya, ya, merujuk HHL itu. Saat itu saya setuju dengan tanpa mengacungkan jari telunjuk. Sampai akhirnya saya harus merasakan siklus anak pinak sialan itu. Saya benar2 tidak sepakat jika HHL dilarang. Artinya, kalo ngga bisa lupa, bunuh aja dia. Emang kamu mau menjadi mumi? Selongsong tanpa jiwa. Kalo udah gini kan lebih kosong ketimbang sundel bolong? Nah lo… mau kamu yang mati apa dia yang mati. Maksudnya anggap dia sudah mati. Ngapain mahluk paling brengsek di dunia dibiarkan hidup? Maaf2 saja. Gitu lho maksudnya. (Sepakat Bapak guru? Mudah2an iya). Dalm konteks tertentu, hal2 yang aslinya dilarang boleh dengan sadar dilanggar. Wong dalam agama pun demikian. Mau bukti? Buka surat al baqarah juz2, ayat tentang makanan yang dilarang. Kenapa? Kerena Gusti Allah tidak ndeso.

Setelah dia mati, apa yang terjadi? Saya banyak merenung. Ngga banyak2 sih, paling kalo pas pulang kuliah melihat benda2 yang kebetulan tertangkap mata; kok bisa, ya saya sehancur itu? Kok bisa, ya, dia sekuat itu, menghancurkan saya, menagacaukan segalanya? Kok tega sekali, padahal hidup saya sudah kacau? Akhirnya; kok bego banget, ya, saya, mau2nya dikacaukan? Padahal ia tak punya wewenang apapun untuk berlaku demikian. Eh… bukankah saya sendiri yang bersedia? Bukankah saya sendiri yang membagikan satu keping hidup saya padanya? Keping yang saya ambil paling tengah, yang saya harapkan dijaga sebaik2nya. Tapi ternyata keping itu tak lebih berharga dari kancing baju, yang kalo ilang akan membuka bagian2 tertentu yang mungkin diinginkan. Keping itu dibuangnya, dicampakkannya. Ketika saya lihat kembali hati saya, disana ada yang bolong, padahal seharusnya ada penyangga. Ketika saya bertanya ‘kok bisa bolong, ya?’ mendadak semuanya runtuh. Mirip susunan balok mini di iklan pepsoden. Satu penyangga diambil, maka…. brukk!! semuanya kacau. Sayangnya bolong kecil itu tak bisa ditambal dengan hanya satu olesan pepsoden, lebih dari olesan, perekat. Tapi percuma, wong yang mau direkatkan ngga ada. Akhirnya harus buat formasi balok hati yang baru, yang tidak ada bolongnya, yang tidak butuk keping hilang tadi. Gimana caranya? Untuk memulai dari awal, seharusnya mengambil langkah yang benar2 baru. Suatu kekeliruan apabila kita memandang solusi dari setiap masalah adalah dengan menarik garis lurus untuk menghubungkan titik awal dan akhir.

Sekian sesi presentasi kali ini, terimakasih.