Megalomania Ksatria Genit

Kolaborasi keserakahan dan megalomania dalam ruang simulacrum pada diri sebagian manusia menghaislkan efek kehancuran yang dahsyat. Dan yang paling parah adalah revisi makna istilah dalam kamus hidup manusia.

Bencana terus membayangi planet Bumi, tidak terkecuali Indonesia. Datangnya bencana yang bertubi-tubi masih mengejutkan. Misalnya warga Purwodadi, pasalnya banjir bagi kabupaten ini adalah legenda, akan halnya Semarang atau Pekalongan yang dimana banjir telah menjadi agenda tahunan.

Meski demikian, ‘terkejut’ bukan lagi ekspresi yang wajar, dan ‘panik’ sama sekali tidak natural. Jogja yang tidak pernah kedatangan gempa, pada pertengahan Mei dikejutkan degan gonjang-ganjing bumi yang meluluh-lantakkan segenap bangunan di Bantul, Klaten, dan sekitarnya. Tsunami yang menjadi ritual Jepang, akhir Desember 2004 tiba-tiba bertamu ke Aceh. Ribuan nyawa dan milyaran harta benda ludes dalam tempo setengah jam. Lalu mendadak kita sadar bahwa kita tidak lagi berhak atas kedua ekspresi tadi, bisa jadi justru yang mengejutkan dan memanikkanlah yang wajar dan natural. Mungkin inilah saatnya dua term itu mengalami peyorasi atau ameliorasi makna?

Maklum, Bukankah banjir dan tanah longsor akibat ulah manusia serakah, bahkan gempa bisa diciptakan Homo Sapien, yang itu spesies kita juga, hanya dengan varietas berbeda akibat terkena radiasi kapitalisme dosis tinggi. Hasilnya? Varietas mubadzirin, jenis yang tak bisa membedakan antara yang lumrah dan serakah, irit dan pelit, atau derma dan sederhana. Membelanjakan uang hanya untuk mempercantik penampilan dan mempermegah performance. Berderma jika ada kamera, diliput, dimuat di media, dan orang sedunia memuji betapa dermawannya ia. Banjir harta, mimpi pangkat, dan gila hormat. Meski demikian, apakah mereka punya waktu mengecap bahagia? Bukankah mereka justru terjebak dalam rutinitas bernama kerja keras. Bangun ketika saudara masih mendengkur, dan berangkat tidur saat semuanya lelap. Berkawan burung hantu mereka hidup dalam simulakrum publik. Maksudnya, pangkat dan martabat yang dijaga dan dicari dengan suah payah tak lebih dari reaksi emosional akan adanya konvensi publik yang aslinya merupakan legalisasi kultural dari semangat egosentrisme yang asosial. Konvensi nilai yang tentu saja datang dari kaum penguasa, bentuk hegemoni untuk melanggengkan dan mengesahkan tindakan, suatu justifikasi dan afirmasi atas kegilaan yang diderita. Masyarakat digiring untuk menerima pandangan dualisme, klasifikasi hitam dan putih ciptaan mereka. Menghilangkan kesadaran akan adanya format identifikasi lain, yaitu format identifikasi yang menggambarkan bentuk relatif dan kontekstual.

Masalah muncul ketika ada paradoks yang memperumit masalah. Dan dalam ruang simulacrum yang serba pelik ini tidak sedikit yang terjebak. Demikianlah yang menjangkiti varietas ini, tertipu hingga mengidap megalomania akut, sudah jatuh tertimpa tangga. Golongan manusia yang tak lagi mampu menghirup wangi realitas yang apa adanya. Layaknya mahluk, ia hanya mumi, selongsong kosong tak berjiwa, atau menurut mitologi jawa, lebih kosong dari sundel bolong.

MH Ainun Nadjib benar ketika dalam Gelandangan di Kampung Sendiri menulis “tipe ksatria genit yang suka berendah hati dalam rangka memberi mahkota di kepala keangkuhannya”. Kerendah-hatian yang mereka umbar di hadapan para korban tidak layak mendapat sorotan, apalagi sorakan, bahkan lirikan pun tidak. Setumpuk mi instant yang mereka sumbangkan sejatinya tak lebih dari se-kuku hitam anak ingusan karena bermain kotoran. Dan nominal yang mereka serahkan tak akan cukup sebagai kompensasi revisi kamus hidup atas definisi term ‘terkejut’ dan ‘panik’.

Jangan salah paham ketika melihat paparan singkat di atas yang mungkin hanya simplifikasi-generalisasi. Mau tak mau, kita harus membuka mata terhadap wajah bopeng kita, wajah hidup tragis dan penuh cela yang mungkin tak layak untuk direntang-pampangkan. Sebab tidak ada lain yang paling bertanggung jawab atas amarah Bumi selain manusia. Namun, semoga kita ingat bahwa di kosmos ini tidak hanya lahir kaum ksatria genit, namun juga kita. Sekalipun kita lahir dalam keadaan lemah dan kurang, kita tetap bagian dari semesta yang turut menentukan kemana arah kehidupan yang super besar ini bermuara.

 

Advertisements