“Highway to hell! Mang ada apa seeeh di sana? Pegel, cape, jauh, becek! Huh! Kalo ada Nidji mending, semuanya terbayar…” kira-kira begitulah runtukan adik saya kala itu, 5 Januari 2008. Saat itu kami hendak menghadiri undangan pernikahan putri adik ipar nenek. Dan diperkirakan pernikahan itu tak akan seberapa meriah menurut standar adik saya yang masih berseragam abu-abu itu. Secara, lokasinya di tengah pedalaman Demak, terkepung rawa-rawa yang ngga’ jelas asal-muasal apalagi legenda yang dikenal dunia.

Kuberi tahu kawan, sumber keluhan adik saya. Air! Ya, saudara-saudara, air yang sangat banyak yang tidak jelas pula sumbernya. Hanya saja orang menyebutnya banjir kiriman. Mereka layaknya revolusi people power, Cuma rakyat, tapi kalo banyak? Nah lo…Sebenarnya tinggi air itu cuma sedengkul, tapi ternyata cukup punya kekuatan untuk menurunkan kasta kami. Dari yang menengah karena seharusnya bisa menikmati perjalanan melankolis berupa sawah yang luas tak terbatas dan disertai belaian angin sembari duduk mengendarai sepeda motor, bukankah itu sangat indah, kawan? Dan karena banjir, kesemestian itu tinggal angan. Motor bebek, satu-satunya sarana yang kami punya tak berdaya, ia meninggalkan satu suara yang mungkin akan terkenang selamanya, “blurp!” menandai tamat riwayat ia, mungkin ia hendak berkata “jaga diri bailk-baik” sebab ia sendiri tak mampu melawan bencana. Dan takdir kami selanjutnya adalah menjalani kasta terendah pengguna jalan, pedestrian yang wajib mendorong motor hingga dua kilometer ke depan.

Dilatari bumi yang menyedihkan dan mengenaskan: bentangan sawah yang seharusnya hijau karena musim tanam sudah masuk, terendam air layaknya lautan. Tak ada pohon padi yang makin berisi makin merunduk, yang ada hanya cuatan pohon waru pembatas petak-petak sawah. Dan didiringi “lantunan musik” dari adik tercinta, saya diam, hati saya panas layaknya pipi yang baru kena tampar. Betapa selama ini saya bebal terhadap bencana, sangat bidoh hingga tak bisa merasakan penderitaan para korban. Padahal gambar diputar 24 jam nonstop di Metro TV, berita-berita juga bertebaran di semua media. Ternyata saya adalah jenis manusia kebanyakan yang tak menyadari dahsyatnya bencana, hingga ia bertamu ke rumah, berdiri di depan hidung saya, dan berkata “Hai, apa kabar?” baru saya sadar bahwa ia berbahaya. Sekalipun selutut? Iya, sekalipun selutut. Memang, tidak ada petani yang menangis melihat sawahnya tergenang air. Padahal lahan itu baru ditanami dengan mengupah sekian belas orang selama sekian hari dan pak tani baru menabur pupuk sekian kilogram, berharap agar sang padi sehat wal afiat. Dan semua itu butuh uang yang tidak sedikit jika diukur dari kocek keluarga tani. Ternyata begitu bangun pagi, apa yang digadang-gadang terendam banjir. Tahukan kawan, reaksi mereka? Mereka hanya diam, tak berdaya. Dan, ketidakberdayaan itu lebih menyedihkan ketimbang air mata. Itu adalah kesaksian adik ipar nenek saya, yang secara struktural kultural, saya pun harus memanggilnya kakek. Tiga hari mereka terndam banjir. Ketar-ketir? Tentu saja, bagaimana tidak jika menghadapi hari H pernikahan putrinya daerahnya terkepung banjir, bagaimana tamu dari jauh-seperti kami ini- bisa sampai?

Ditingkahi peluh bercucuran kerena kami berangkat pukul satu siang, otak saya terus memutar slide-slide bencana; tsunami, gempa, tanah longsor, kekeringan, kemarau panjang, dan semuanya membuat saya bergidik ngeri. Apakah Tuhan menghukum kita? Pertanyaan itu menjadi sound track slide bencana yang terus membayang mengiringi putaran roda motor bebek usai mengucapkan kata perpisahan terakhir tadi. Terus bergema hingga slide hutan gundul muncul, disusul lahan yang dulu penuh pohon-pohon besar yang dulu saya lewati kini menjadi lahan persemaian cabe. Sumur besar di tengah desa kini kosong, tak ada pasokan air, kering tak berguna, ah…orang-orang itu merusak alam demi keuntungan pribadi

Tiba-tiba tumbuh rasa benci dalam hati yang tertuju pada orang-orang kaya penebang hutan tanpa pikir panjang. Mengkapling lahan tanpa orientasi ke depan. Yang dulu hutan berganti perumahan, tak ada lagi wilayah resapan. Saya muak dengan modernisasi. Eh… bukannya saya juga ikut merayakan kemenangan globalisasi? Motor bebek ini yang saya kendarai, baju yang saya kenakan? Sepatu? Sandal? Ah.. saya juga harus membenci diri saya sendiri juga kah? Rasanya tidak, saya menggunakan apapun sewajarnya. Saya tidak lantas memborong baju di tahun baru untuk merombak gaya sebagai perlambang kebaruan. Bagi saya, tahun baru hanya bagi penyembah kalender matahari, sedangkan saya adalah pemuja kalender akademik? Saya tak langsung makan dalam jumlah besar ketika teknologi mengijinkan petani panen padi setahun dua kali. Sayang juga rasanya kalo badan sakit-saktan gara-gara suka makan, ngga canggih! Tapi, bukankah saya menyukai AC, kulkas? Secara, mereka penyumbang freon terbanyak. Terlebih lagi saya malas jalan kaki. Untuk main ke rumah tante yang hanya berjarak tak lebih sepuluh meter, saya mensyaratkan adanya motor. Sebenarnya saya ikut-ikutan teman yang kesana-kemari duduk di depan stir. Dan saya hanya menyesuaikan kondisi, mobil di subtitusi motor. Padahal konon katanya transportasi adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, dak kita tahu, tapi tetep ngejalaninnya juga. Abis enak sih!

Eureka! Saya puny ide, seperti iklan obat otak yang di atas kepalanya ada bohlam 5 watt, mungkin seperti itulah saya saat itu. Kayaknya keren juga tuh, jadi resolusi tahun baru, sekalipun telat? Itu kan bagi pemuja solar almanac? Lunar almanac maksudnya? Kan belom, nanti masih 10 Januari. Kalo saya bukan pemuja keduanya? Bias saja woong saya penganut kalender akademik, weee. Kok jadi bahas ini? Kembali ke computer…(belum secanggih thukul yang dah pake laptop). Resolusi seksi sekalipun nanti di cap miskin, terbelakang, melawan arus peradaban. Namun saya punya diksi yang tidak mengecilkan hati, diksi yang lebih elegan; hemat dan sederhana. Mulai sekarang saya tidak akan menjadi manja, mungkin tidak dengan motor bebek, sepeda misalnya (kondisional). Saya tidak akan dengan otomatis memasang AC jika kepanasan merasakan gerahnya udara luar, kipasan rasanya lebih bijaksana. Dan bisa jadi saya mengganti hobi saya, dari berbelanja ke berkebun, penghijauan, boo… Lalu? Sepertinya dana bensin bisa dihapus, ikut baksos? Em.. boleh juga tuh, sebab, sepertinya memalukan, bahagia kok sendirian. Mungkin ngga perlu jauh-jauh ke luar daerah, bisa saja orang-orang itu hanya terkapar di seberang pintu?

 

Advertisements