January 2008


AMBIVALENSI

Apa yang dipikirkan dhani tentang management republic cintanya(MRC)nya? Wabilkhusus jeng Mulan Jameeeeeeeela. Konsepnya sih iya timur tengah bo’. Tapi tunggu dulu. Konsep yang mana nih? Kayaknya keseluruhan deh. Ya musiknya, ya kostumnya, ya rokok yang kayak teko itu, ya….

Kostum? Itu bukannya kostum punya India, ya? Indianya shahrukh khan to? Yang keliatan udelnya, yang kerudung tipis dan berkibar-kibar kayak bendera plus full colour gitu itu? Emang India yang itu masuk timteng? India yang itu mah masih tetangga kita kali. Di Asia-asia juga, kamu lurussss, trus belok kanan. Tunggu lampu merah dulu. awas ada pak polisi! Kalo konsepnya ratu timur tengah, kenapa ngga pake CLEOPATRA sekalian? Yang tanggung2 kayak gini jadi kayak kodok. Dipermalukan mahluk darat, tapi malu masuk ke air. Jadi deh sang kodok duduk diem dahar di atas daun.Barangkali mas jenggot ini ngga liat atlas, liatnya, bagian mba mulan yang mana yang bisa di jual? Udelnya kah? Jarang-jarang kan orang Indonesia pamer udel? Tapi kalo mau pamer undel kok ya ditutupi? Malu kali, ada gelambirnya. Pernahkan kamu memperhatikan bagian perut mulan pas dia turun dari tangga berkostum emas, sobat? Ada kan gelambirnya. Saya ngga bohong. Kalo nga percaya, beli aja. Tapi yang bajakan. Jangan yang asli. Sayang . wong hampir semuanya REMAKE. bedanya cuma ada desah. ini kali yang dijual.

Inilah yang akan kita bahas. Ambivalensi. Menurut kamus popular terbitan LINTAS MEDIA, ambivalensi artinya kebingungan dalam menentukan dua perasaan yang tiba-tiba muncul. Perasaan bertentangan. Sudah tahukan, sobat? Kalo belum (konfirmasi sekaligus persuasi) akan kita coba bedah disini.

Dulu dhani melarang MAia pake rok mini, itu jauh sebelum ada issu PIL dan WIL. Dan maia mensiasatinya dangan stoking jarring, sodara-sodari. Nah lo!!! Sekarang, gandeng yang indah dari mulan harus ditutup, (tutup yang seperti apa dulu? dalam islam, apa lagi sufisme yang ditaati dhani, tutup itu ya, tebel, ya longgar. Bukan tebel tapi rapat. Kaya lemper aja nantinya) maka harus ada taktik lain untuk memuaskan hasrat (hasrat siapa hayooo) su’udzan saya, sobat cukup cerdas untuk hal ini. Maka tidak perlu kita bahas.

Kita lanjut, dhani bingung, apa mau pake metode sufisme atau menuruti pasar? kalo pure pasar oriented, barangkali mbah Habib yang dari Amrik kontak dhani dan nyuruh istighfar beryuta-yuta kali. kalo sufisme? malu dong. Bisa2 penjualan mulan kalah sama mba Maia. Nah akhirnya, jadilah itu album MUALAN JAMEELA= orgasme Gandhi (pake huruf kecil aja biar ngga nyolok). Sufisme berbalut sensasi gimannnEEE gitu. Lha mau gimana lagi? Mungkin beliaunya bingung sampai bisa -bisanya berkilah, ah itukan dunia panggung? Lha dia lupa kali sama WORLD IS A STAGE, dunia itu panggung sandiwara. Barangkali juga seeeh

NGGA DA MATINYA!

Itu kalimat paling pas untuk episode Cerita mereka. Masih ingat dong goro-goro Dhani minta Maia milih ratu ato keluarga? Sampai bang jenggot ini ngadu ke presiden. Presiden mana yak? Bukannya dia udah jadi presiden Republik Cinta? Yangga lah. Bang jenggot ini ngadunya ke bapak SBY, presiden Kita, presiden Republik Indonesia raya yang merdeka. Apa abang satu ini ngga inget pak SBY punya 250 juta abang2 lainnya? Sungguh terlalu!!1 Dan, jangan lupakan tandingan Maia tentang issu kekerasan dalam rumah tangga! Dhani yang selingkuh (atau sebaliknya, Maia yang punya PIL). Sampai m(W)ulan mensomasi karena kerkacauan honor? Belum cukup sampai di situ, ketika Maia mengganti ratu dengan (yang tadinya dengan embel-embel yang menurut saya lebih keren dengan ini MAHA) MAIA. Ternyata saudara-saudari. Masih ada gossip yang tergres (saat tulisan ini dibuat) bahwa mba Maia memplagiat AKU MAU MAKAN KU INGAT KAMUnya Ririn S ato Dina Mariana yang ngetop era 80an.

Coba simak ke duanya, dan rasakan bedanya (korban iklan nih,yee). Lha emang beda banget. yang namanya menjiplak dan bias diajukan ke HAKI (hak atas kekayaan interlektual) terjadi adalah yang punya kemiripan sebanyak delapan bar (saya sendiri kurang tahu BAR ini artinya apa. Yang tahu, kasi tahu dong!!!). rasa-rasanya Maia dengan pendidikan dan kreasinya tahu mana yang memalukan mana yang membanggakan.

untuk perkara album, manalah mungkin ia bersedia memperolok diri dengan memplagiat. wong di dipan mbah Dhani aja ngga mau, apa lagi ini? poin yang ia bilang sebagai pembuktian kepada dunia bahwa mba cantik satu ini bias berkata BISA? Malu dong kalo udah katakana Bisa lau ditambah MAAF.

Mari kita telisik dengan metode barangkali. Mungkin ngga ini adalah kasus buatan Dhani untuk merong-rong kehidupan Maia. Bisa aja kan dani menganut filsafat kalo gagal sebagai suami istri kenapa ngga bias sebagai kucing dan anjing?

Tapi kalo dilihat, eh, didenger, ding. Lagu EGP (emang gue pikirin) ada mirip2nya sama elevation-nya U2. tapi reffnya tox. Namun, mari kita agak sedikit melunak. Artinya berdiri di sisi yang wajar. Ngga Dhaniholic banget ato Maiaersmania. Kalo dianalogikan kerja Mai dengan editor yang menyatukan penggalan tulisan jadi karya baru. Penggalan-penggalan itu tak menjadi karya tanpa tangan yang merangkai.

 

“Highway to hell! Mang ada apa seeeh di sana? Pegel, cape, jauh, becek! Huh! Kalo ada Nidji mending, semuanya terbayar…” kira-kira begitulah runtukan adik saya kala itu, 5 Januari 2008. Saat itu kami hendak menghadiri undangan pernikahan putri adik ipar nenek. Dan diperkirakan pernikahan itu tak akan seberapa meriah menurut standar adik saya yang masih berseragam abu-abu itu. Secara, lokasinya di tengah pedalaman Demak, terkepung rawa-rawa yang ngga’ jelas asal-muasal apalagi legenda yang dikenal dunia.

Kuberi tahu kawan, sumber keluhan adik saya. Air! Ya, saudara-saudara, air yang sangat banyak yang tidak jelas pula sumbernya. Hanya saja orang menyebutnya banjir kiriman. Mereka layaknya revolusi people power, Cuma rakyat, tapi kalo banyak? Nah lo…Sebenarnya tinggi air itu cuma sedengkul, tapi ternyata cukup punya kekuatan untuk menurunkan kasta kami. Dari yang menengah karena seharusnya bisa menikmati perjalanan melankolis berupa sawah yang luas tak terbatas dan disertai belaian angin sembari duduk mengendarai sepeda motor, bukankah itu sangat indah, kawan? Dan karena banjir, kesemestian itu tinggal angan. Motor bebek, satu-satunya sarana yang kami punya tak berdaya, ia meninggalkan satu suara yang mungkin akan terkenang selamanya, “blurp!” menandai tamat riwayat ia, mungkin ia hendak berkata “jaga diri bailk-baik” sebab ia sendiri tak mampu melawan bencana. Dan takdir kami selanjutnya adalah menjalani kasta terendah pengguna jalan, pedestrian yang wajib mendorong motor hingga dua kilometer ke depan.

Dilatari bumi yang menyedihkan dan mengenaskan: bentangan sawah yang seharusnya hijau karena musim tanam sudah masuk, terendam air layaknya lautan. Tak ada pohon padi yang makin berisi makin merunduk, yang ada hanya cuatan pohon waru pembatas petak-petak sawah. Dan didiringi “lantunan musik” dari adik tercinta, saya diam, hati saya panas layaknya pipi yang baru kena tampar. Betapa selama ini saya bebal terhadap bencana, sangat bidoh hingga tak bisa merasakan penderitaan para korban. Padahal gambar diputar 24 jam nonstop di Metro TV, berita-berita juga bertebaran di semua media. Ternyata saya adalah jenis manusia kebanyakan yang tak menyadari dahsyatnya bencana, hingga ia bertamu ke rumah, berdiri di depan hidung saya, dan berkata “Hai, apa kabar?” baru saya sadar bahwa ia berbahaya. Sekalipun selutut? Iya, sekalipun selutut. Memang, tidak ada petani yang menangis melihat sawahnya tergenang air. Padahal lahan itu baru ditanami dengan mengupah sekian belas orang selama sekian hari dan pak tani baru menabur pupuk sekian kilogram, berharap agar sang padi sehat wal afiat. Dan semua itu butuh uang yang tidak sedikit jika diukur dari kocek keluarga tani. Ternyata begitu bangun pagi, apa yang digadang-gadang terendam banjir. Tahukan kawan, reaksi mereka? Mereka hanya diam, tak berdaya. Dan, ketidakberdayaan itu lebih menyedihkan ketimbang air mata. Itu adalah kesaksian adik ipar nenek saya, yang secara struktural kultural, saya pun harus memanggilnya kakek. Tiga hari mereka terndam banjir. Ketar-ketir? Tentu saja, bagaimana tidak jika menghadapi hari H pernikahan putrinya daerahnya terkepung banjir, bagaimana tamu dari jauh-seperti kami ini- bisa sampai?

Ditingkahi peluh bercucuran kerena kami berangkat pukul satu siang, otak saya terus memutar slide-slide bencana; tsunami, gempa, tanah longsor, kekeringan, kemarau panjang, dan semuanya membuat saya bergidik ngeri. Apakah Tuhan menghukum kita? Pertanyaan itu menjadi sound track slide bencana yang terus membayang mengiringi putaran roda motor bebek usai mengucapkan kata perpisahan terakhir tadi. Terus bergema hingga slide hutan gundul muncul, disusul lahan yang dulu penuh pohon-pohon besar yang dulu saya lewati kini menjadi lahan persemaian cabe. Sumur besar di tengah desa kini kosong, tak ada pasokan air, kering tak berguna, ah…orang-orang itu merusak alam demi keuntungan pribadi

Tiba-tiba tumbuh rasa benci dalam hati yang tertuju pada orang-orang kaya penebang hutan tanpa pikir panjang. Mengkapling lahan tanpa orientasi ke depan. Yang dulu hutan berganti perumahan, tak ada lagi wilayah resapan. Saya muak dengan modernisasi. Eh… bukannya saya juga ikut merayakan kemenangan globalisasi? Motor bebek ini yang saya kendarai, baju yang saya kenakan? Sepatu? Sandal? Ah.. saya juga harus membenci diri saya sendiri juga kah? Rasanya tidak, saya menggunakan apapun sewajarnya. Saya tidak lantas memborong baju di tahun baru untuk merombak gaya sebagai perlambang kebaruan. Bagi saya, tahun baru hanya bagi penyembah kalender matahari, sedangkan saya adalah pemuja kalender akademik? Saya tak langsung makan dalam jumlah besar ketika teknologi mengijinkan petani panen padi setahun dua kali. Sayang juga rasanya kalo badan sakit-saktan gara-gara suka makan, ngga canggih! Tapi, bukankah saya menyukai AC, kulkas? Secara, mereka penyumbang freon terbanyak. Terlebih lagi saya malas jalan kaki. Untuk main ke rumah tante yang hanya berjarak tak lebih sepuluh meter, saya mensyaratkan adanya motor. Sebenarnya saya ikut-ikutan teman yang kesana-kemari duduk di depan stir. Dan saya hanya menyesuaikan kondisi, mobil di subtitusi motor. Padahal konon katanya transportasi adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, dak kita tahu, tapi tetep ngejalaninnya juga. Abis enak sih!

Eureka! Saya puny ide, seperti iklan obat otak yang di atas kepalanya ada bohlam 5 watt, mungkin seperti itulah saya saat itu. Kayaknya keren juga tuh, jadi resolusi tahun baru, sekalipun telat? Itu kan bagi pemuja solar almanac? Lunar almanac maksudnya? Kan belom, nanti masih 10 Januari. Kalo saya bukan pemuja keduanya? Bias saja woong saya penganut kalender akademik, weee. Kok jadi bahas ini? Kembali ke computer…(belum secanggih thukul yang dah pake laptop). Resolusi seksi sekalipun nanti di cap miskin, terbelakang, melawan arus peradaban. Namun saya punya diksi yang tidak mengecilkan hati, diksi yang lebih elegan; hemat dan sederhana. Mulai sekarang saya tidak akan menjadi manja, mungkin tidak dengan motor bebek, sepeda misalnya (kondisional). Saya tidak akan dengan otomatis memasang AC jika kepanasan merasakan gerahnya udara luar, kipasan rasanya lebih bijaksana. Dan bisa jadi saya mengganti hobi saya, dari berbelanja ke berkebun, penghijauan, boo… Lalu? Sepertinya dana bensin bisa dihapus, ikut baksos? Em.. boleh juga tuh, sebab, sepertinya memalukan, bahagia kok sendirian. Mungkin ngga perlu jauh-jauh ke luar daerah, bisa saja orang-orang itu hanya terkapar di seberang pintu?

 

Isu pemasan global perlu disikapi dengan aturan tegas dan mengikat. Dalam hal ini pemerintah pemegang kunci keberhasilan serta efektifitas kebijakan yang diambil.

Meningkatnya suhu global Bumi, mencairnya es di kutub, dan meningkatnya permukaan air laut adalah bukti tak terbantahkan atas fenomena Global Warming (GW) dan itu sudah diakui dunia. Namun, ketika kita dituntut untuk memutuskan, kita bimbang, padahal GW perlu penanganan serius. Bukan sekedar debat panjang nan melelahkan nihil hasil laiknya NFCCC (konferensi para pelaku konvensi kerangka kerja PBB mengenai perubahan iklim) di Bali 3-14 Desember lalu.

Konferensi sejenis itu sebenarnya tidak perlu. Untuk menangani GW hanya dibutuhkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari semua pihak. Tranportasi dan pabrik adalah penyumbang terbesar GRK, maka pemerintah sebagai regulator sah seharusnya menggunakan kewenangannya.

Pemerintah bisa menerapkan prinsip Polluter Pays Principle; tingkatkan pajak impor mobil dan motor. Otomatis dengan dengan tingginya pajak impor akan mempermahal harga barang. Pertinggi pajak kendaraan pribadi sesuai kadar emisi yang dikeluarkan. Dengan langkah ini diharapkan daya beli mobil yang tahun 2006-2007 tinggi dapat ditekan. Kenakan retribusi parkir yang besar. Dengan adanya kebijakan ini jumlah kendaraan di jalan bisa berkurang. Terlebih lagi jika biaya tol dinaikkan, gelombang melepas mobil pribadi akan makin besar.

Nantinya dana dari pajak yang diperoleh, digunakan untuk memperbaiki sarana transportasi umum yang selama ini memprihatinkan. Akses yang mudah dan memadahi, pelayanan, kenyamanan, dan keamanan menjadi prioritas utama yang harus ditingkatkan. Tentu adanya perombakan itu perlu sosialisasi yang gencar agar masyarakat mengerti bahwa transportasi umum yang kesannya menyebalkan dan jorok terhapus. Jika demikian adanya, akan timbul anggapan ‘jika transportasi publik lebih efisien, kenapa mesti repot duduk di depan setir?’

 

 

Travelling:

It gives you home in a thousand strange places,

then leaves you a stranger in your own land

-Ibn Battuta-

Nowadays, travelling becomes the best choice for book’s tittle in Indonesia. May be it was started by Dewi Lestari with her second series of Supernova, Akar, in 2002. This book introduced backpacking tradition to Indonesian public. In 2007 there are two pubishing house, at least, make travelling as the main theme. They are Bentang and Gagas Media. Bentang with Edensor by Andrea Hirata and Gagas Media with Travellers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona. Travellers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona is a shared project for four authors; Aditya Mulya, Alya Setya, Iman Hidayat, and Ninit Yunita.

In Edensor, Andrea Hirata transforms a momen of anxiety into his dream to travel around the world. Edensor is the third series of his tetralogy Laskar Pelangi. By the power of dream, Ikal and Arai, two main characters of this book, cross country to Europe and Africa as backpacker. Both are Indonesian post graduate students in Sorbonne, France who get scholarship. This book, just like two previous books of his tetralogy, talks about Andrea’s life from he was a child untill his life amid amazing intelectual people around the world in Sorbonne. But, the most interesting point of Edensor is their touching life when they were in adventure. This part is told clearly, and beautifully, of course with magnificent setting description by Andrea. That each country has different culture, social, political, geographical, and also finansial were the challenge that Ikal and Arai have to take. They often walk step by step to reach some countries and often astray too. They don’t want to be a coward by taking a travel agent, they want to feel these challenges. In their journey, they ever had slept in terrible themperature, -16 degree in celcius, againsted mafia and sometimes pickpocket, even been offered as gigolo. Andrea tells us that travelling offers a hundred of roads to adventure and gives your heart wings.

Contrast with Edensor, Travellers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona gives different way to go around the world, flight. Mood and background of this book are more interesting than the story it self. Sometimes we are invited to see some countries’s conflict and it’s straining flight. It seems like the first book contains a lot of names of places. Especially, this is a novel, not a travel guide. The characters in this book are from middle-upper class society. Francis is a profesional pianist, Jusuf, an assistant of regional marketing manager in a big company, Farah is developing a resort in Vietnam, and Retno as official at KBRI in Kopenhagen, Denmark. They plait a friendship since they were in elementary scool and cross abroad to find an answer of their secret. Their courage is just (cliche and common), puppy love.

These differences are natural if we are thinking about vision and mission of each publishing house. Bentang publishes literary works, while Gagas Media is a populer book publisher. We should remember to Jomblo, first novel of Aditya Mulya, how funny this novel is, and the philosophic Andrea Hirata’s Laskar Pelangi that avery part of the funny moment is inserted thinkers tought.

Megalomania Ksatria Genit

Kolaborasi keserakahan dan megalomania dalam ruang simulacrum pada diri sebagian manusia menghaislkan efek kehancuran yang dahsyat. Dan yang paling parah adalah revisi makna istilah dalam kamus hidup manusia.

Bencana terus membayangi planet Bumi, tidak terkecuali Indonesia. Datangnya bencana yang bertubi-tubi masih mengejutkan. Misalnya warga Purwodadi, pasalnya banjir bagi kabupaten ini adalah legenda, akan halnya Semarang atau Pekalongan yang dimana banjir telah menjadi agenda tahunan.

Meski demikian, ‘terkejut’ bukan lagi ekspresi yang wajar, dan ‘panik’ sama sekali tidak natural. Jogja yang tidak pernah kedatangan gempa, pada pertengahan Mei dikejutkan degan gonjang-ganjing bumi yang meluluh-lantakkan segenap bangunan di Bantul, Klaten, dan sekitarnya. Tsunami yang menjadi ritual Jepang, akhir Desember 2004 tiba-tiba bertamu ke Aceh. Ribuan nyawa dan milyaran harta benda ludes dalam tempo setengah jam. Lalu mendadak kita sadar bahwa kita tidak lagi berhak atas kedua ekspresi tadi, bisa jadi justru yang mengejutkan dan memanikkanlah yang wajar dan natural. Mungkin inilah saatnya dua term itu mengalami peyorasi atau ameliorasi makna?

Maklum, Bukankah banjir dan tanah longsor akibat ulah manusia serakah, bahkan gempa bisa diciptakan Homo Sapien, yang itu spesies kita juga, hanya dengan varietas berbeda akibat terkena radiasi kapitalisme dosis tinggi. Hasilnya? Varietas mubadzirin, jenis yang tak bisa membedakan antara yang lumrah dan serakah, irit dan pelit, atau derma dan sederhana. Membelanjakan uang hanya untuk mempercantik penampilan dan mempermegah performance. Berderma jika ada kamera, diliput, dimuat di media, dan orang sedunia memuji betapa dermawannya ia. Banjir harta, mimpi pangkat, dan gila hormat. Meski demikian, apakah mereka punya waktu mengecap bahagia? Bukankah mereka justru terjebak dalam rutinitas bernama kerja keras. Bangun ketika saudara masih mendengkur, dan berangkat tidur saat semuanya lelap. Berkawan burung hantu mereka hidup dalam simulakrum publik. Maksudnya, pangkat dan martabat yang dijaga dan dicari dengan suah payah tak lebih dari reaksi emosional akan adanya konvensi publik yang aslinya merupakan legalisasi kultural dari semangat egosentrisme yang asosial. Konvensi nilai yang tentu saja datang dari kaum penguasa, bentuk hegemoni untuk melanggengkan dan mengesahkan tindakan, suatu justifikasi dan afirmasi atas kegilaan yang diderita. Masyarakat digiring untuk menerima pandangan dualisme, klasifikasi hitam dan putih ciptaan mereka. Menghilangkan kesadaran akan adanya format identifikasi lain, yaitu format identifikasi yang menggambarkan bentuk relatif dan kontekstual.

Masalah muncul ketika ada paradoks yang memperumit masalah. Dan dalam ruang simulacrum yang serba pelik ini tidak sedikit yang terjebak. Demikianlah yang menjangkiti varietas ini, tertipu hingga mengidap megalomania akut, sudah jatuh tertimpa tangga. Golongan manusia yang tak lagi mampu menghirup wangi realitas yang apa adanya. Layaknya mahluk, ia hanya mumi, selongsong kosong tak berjiwa, atau menurut mitologi jawa, lebih kosong dari sundel bolong.

MH Ainun Nadjib benar ketika dalam Gelandangan di Kampung Sendiri menulis “tipe ksatria genit yang suka berendah hati dalam rangka memberi mahkota di kepala keangkuhannya”. Kerendah-hatian yang mereka umbar di hadapan para korban tidak layak mendapat sorotan, apalagi sorakan, bahkan lirikan pun tidak. Setumpuk mi instant yang mereka sumbangkan sejatinya tak lebih dari se-kuku hitam anak ingusan karena bermain kotoran. Dan nominal yang mereka serahkan tak akan cukup sebagai kompensasi revisi kamus hidup atas definisi term ‘terkejut’ dan ‘panik’.

Jangan salah paham ketika melihat paparan singkat di atas yang mungkin hanya simplifikasi-generalisasi. Mau tak mau, kita harus membuka mata terhadap wajah bopeng kita, wajah hidup tragis dan penuh cela yang mungkin tak layak untuk direntang-pampangkan. Sebab tidak ada lain yang paling bertanggung jawab atas amarah Bumi selain manusia. Namun, semoga kita ingat bahwa di kosmos ini tidak hanya lahir kaum ksatria genit, namun juga kita. Sekalipun kita lahir dalam keadaan lemah dan kurang, kita tetap bagian dari semesta yang turut menentukan kemana arah kehidupan yang super besar ini bermuara.

 

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!