LPM IAIN; LEMBAGA PELAWAK MAHASISWA

NKK/BKK rasanya mulai diberlakukan kembali di IAIN saya tercinta. Ssst!!! Jangan bilang-bilang. Ini baru kalangan terbatas yang tahu. (more…)

DEMO ITU UNTUK MENGINGATKAN

Momentum seabad kebangkitan nasional seharusnya bukan untuk sekedar dirayakan dan atau diperingati, tapi direnungi. nilai-nilai tentang kesejahteraan dan keadilan harus diterapkan, bukan dikaji.bagi yang lupa, mahasiswa dengan upayanya berusaha mengingatkan pelajaran berharga ini. Jika tidak, berarti nilai sejarah kita merah

2008. 100 tahun kebangkitan nasional, 100 tahun sumpah pemuda, 100 tahun lahirnya sastrawan dan budayawan bangsa Sutan Takdir Alisjahbana dengan polemiknya, 10 tahun reformasi yang mengorbankan darah dan air mata, bangkitnya dunia pebulutangkisan putri setelah 10 tahun koma dan entah hari apa lagi sehingga menjadikan 2008 hari istimewa bagi bangsa besar ini.

Tapi nampaknya semua peringatan tarih itu hanya merupakan ritual sia-sia tak bermakna di mata rakyat kecil yang kian tercekik dengan kebijakan yang tak kunjung bijak dan berpihak pada rakyat; amandemen pasal 33, UU Migas, UU ketenagakerjaan, impor beras dan penarikan subsidi beberapa bahan pokok. Mungkin sedikit dari rakyat paham bahwa penderitaan itu dampak dari kesepakatan bapak-bapak bangsa. (more…)

Ceracau sunyi senja hari

setelah mengokang mimpi

aku wudlu dipancuran sepi

kugelar sajadah di bawah senja

makmum pada segala semak yang ada tanpa mengapa

kurapal putus asa lewat igauan doa

lalu kutengadahkan tangan dan hatiku

setelah sebelumnya

menyambangi palung paling pilu dari bumi

dan meracau salam pada rakib atid

Gusti, aku butuh api

tak perlu abadi

agar bisa kubakar nasi

untuk membaca hari yang tak selalu rapi

malam ini

; sepi.

aku hanya ingin menceritakan hari

dengan jempol yang tak begitu lincah menari dia atas tuts komputer

dengan doa yang kaku terlafalkan

dan secarik mimpi yang terabai

kemudian

kuketuk alamat jenak

dengan sisa kata yang tersia

tok tok tok; sepi.

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya
W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
dan juga masa depan kita yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan

Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita
karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
suka duka kita bukanlah istimewa
karena setiap orang mengalaminya
hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samudra
serta mencipta dan mengukir dunia

Kita menyandang tugas
karena tugas adalah tugas
bukannya demi surga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia
karena sesungguhnya kita bukan debu
meski kita telah reot, tua renta dan kelabu

Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapuskan
lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda
dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi dan juga nasib kita

Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara
bukan karena senyuman adalah satu kedok
tetapi karena senyuman adalah satu sikap
sikap kita untuk Tuhan,
manusia sesama, nasib dan kehidupan

Lihatlah sembilan puluh tahun penuh warna
kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma
kita menjadi goyah dan bongkok
karena usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan karena kita telah terkalahkan

Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kamu kenang encokmu
kenangkanlah pula bahwa kita ditantang seratus dewa

Saya mendengar rendra membacanya dan seketika itu mata kanan menitikkan setetes air mata. Hanya satu. Karena yang seribu telah saya cicil malam lalu. Ketika saya tidak bisa memberi senyum untuk senja. Ketika saya luar biasa lelah. Bahkan untuk bermimpi. (more…)

Tawa Itu Ada Tanpa Mengapa

Salah seorang kawan saya sedang berbahagia, sangat bahagia mungkin, mengingat anugrah yang Tuhan berikan empat sekaligus dalam satu waktu; uang, kemasyhuran, jabatan dan perempuan. Lalu minggu lalu ia mengadakan acara makan-makan, sejenis even berbagi kebahagian.

Ketika dipaparkan kebahagiaannya satu persatu, saya mendesah dan gelisah. Meski begitu saya tetap tertawa mengikuti irama pesta. (more…)

lima minggu sudah saya lalui jalan sunyi ini

Lima minggu sudah saya lakoni, meminjam istilah pak edi, jalan sunyi

‘wong kok senengane ndewe’ itu komentar teman saya tiap kali saya berlari. Maka gelar ‘cah ilang’, ‘eksklusif’ dst, dst pun disematkan pada saya. Padahal, demi allah! (ini tidak main2, huruf qosam, lho) tida pernah terlintas sedikitpun di benak saya untuk menyendiri, menyingkir dari peredaran ‘no one like to be alone’ kalo avril bilang. Jalan itu dating sendiri pada tanpa saya memanipulasi semesta. Hingga saat ini sudah tercatat dua kali saya harus minta ijin keluar sebelum kelas usai. Lho? Lho banget memang. (more…)