tentu saja iya. karena itu yang dikatakan teman saya untuk hari pertama masuk kuliah. dan lagi2 postulat i don’t like monday berlaku.
sebenarnya udah basi karena sekarang hari sudah hari rabu. kemaren pas mau posting dengan judul ini ngga bisa karena koneksi yang aneh. boalk-balik posting ngga berhasil terus.
nyerah. pas dicari datanya di mana udah ilang. good bye posting liburan.
ngga penting banget sebenarnya, tapi mo gimana lagi?

 

The last prayer’s of pretender

 

aku purapura tak keberatan kau diam

lantaran diam bukan sinonim bisu

ketakmampuan memverbakan segala atau sejenis phobia apa

            tak ada apa-apa

            menunggu jawaban kau bilang

            tak ada pertanyaan  kujawab

            menanti yang tak datang  kau geram

            tersesat aku diam

 

aku purapura tak keberatan kau diam

sebab sejak awal mula akulah pencerita

darimu titik seringnya tanda tanya

atau senyap kadang kala

kupilih bedak termahal untuk senyap itu;

tertawa untuk sebuah ceruk luka

berpura-pura kau ada, mengudara, mengisi sebelah paruku

 

aku purapura tak keberatan kau diam

hingga hanya tersisa doa

pada tuhan yang merahimi

semoga ia tak lupa

pada episode ‘Tersesat di Langit Bersama’

 

aku tak keberatan kau diam

sekalipun mesti kukecap samudra putus asa dengan rasa amnesia

sekalipun aku tak bisa berpurapura untuk kehilangan

siapapun lagi

pelukis atau kuas

Kemarin saya berseteru dengan salah satu teman chat YM saya. Bab pelukis. Apakah bahasa Inggris dari pelukis, apakah painter ato paintist, mengingat coocker adalah alat masak dan writer adalah penulis. So, panjang lebar, luas, hampir mengalami perceraian. Akhirnya diputuskan jalan damai, mencari moderator. That was dictionary. Dan saya salah. Pelukis adalah painter. Hal ini dikarenakan saya terhegemoni ujaran mas lilik, direktur bengkel sastra (komuntas sastra) di tempat saya. Bahwa Picasso adalah seorang paintist. Ooo kamu ketahuan…. O :-)

Terakhir  

“teman saya datang ke badan penerjemah, sudah bayar 700 ribuan. Tapi hasilnya masih unreadable. Light Purple aja jadi ungu cerah”

“kan dah bener, bu’?”

“bener apanya, wong itu nama orang.” Glek!

“bonus kali bu’, kan udah bayar mahal.” Gerrr… 

Itu sekelumit cerita dari kuliah perdana translation-ny Bu Tar, selanjutnya disingkat BT. Bahwa translation itu sulit.Dan saya sukses memeberikan kesan yang paling berkesan. Setelah berhasil masuk telat setengah jam, sukses duduk di deret pertama lengkap tanpa membawa modul.

“Lima menit, maksimal kalian menerjemahkan teks halaman 1.”

Makasih, bu. Dan saya hanya bisa menikmati paket lengkap Trio Ye; hungry, thirsty, sweaty. jam tiga siang, bo!! dan hanya dapat logistik dari sarapan pagi! Setelah bereksperimen dengan berbagai macam gaya dan ekspresi, saya akhirnya memutuskan membuka binder halaman terakhir. Semoga ini bukan halaman terakhir saya masuk kelas BT

Muskot ppmi di tangan kami (lagi) PPMI (perhimpunan pers mahasiswa Indonesia) bakal ngadain Muskot, alias Musyawarah Kota nanti tanggal 27 sampai 28 Maret. Itu artinya dua minggu lagi. Dan kemarin baru mengadakan rapat koordinasi pertama! Dahsyat, kan? Dua minggu, dan kami berani jamin bahwa acara bakal lancar, berlangsung bebas tanpa hambatan. Garansi uang kembali (more…)

Curhatan Yang Ngga’ Jadi

Hari ini saya merasa konteks adil itu emang seharusnya sama rata, bukan proporsional. Bullshit itu. (more…)

Menyelami Nama Diri

Rakkaustarina. Jadi ingat novel kedua pak jamal (novel pertama juga, ding,). Lumayan membosankan. Maksudnya, Pak Jamal luar biasa sabar. Wong yang baca aja bosen, gimana nulisnya,ya? Bukan apa2, sebab novel ini jadi keliatan ngiklanin Finlandia, negaranya Nokia dengan seribu saunanya. Dan sejahteranya.

Ada yang menarik buat saya, Fifay. Hehe… bukan apa2 juga sih, Cuma dikit kesentil. Harap diketahui sebelumnya bahwa saya menamai diri fay bukan disebabkan karakter bikinan Pak Jamal itu (sekalipun ada kemiripan nasib), tapi murni karena si Tyo. Tapi kalo Tyo manggil saya karena fiFay? Tambah ngga mungkinnya, sekalipun dia baca lousiana-lousiana yang terbit di tahun 2003? Yak. Sebab kami masih SMP, dan lulus SMP tahun 2002. Jika demikian, berarti yang njiplak Pak Jamal, dong? Bisa jadi. Tapi saya ngga pengenmemper -panjang perdebatan soal nama. Yang mau saya bahas adalah ekspektasi manusia atas sesuatu yang bukan apa2nya. (more…)

Heboh MUSMAJU

Lagi hebring pemilu kampus. Pesta demokrasi di kampus. Sekarang IAIN semarang mo punya hajatan demokrasi. Tapi menurut sumber yang bisa dipercaya, system kali ini beda. MUSMAJU. Dengan segala ketentuan yang konon dipegang kajur (ketua jurusan). Menurut Nay, reporter yang ditugasi membedah perubahan system, hal ini lumayan baik. “itung2 memberi tugas kajur yang selama ini ngga jelas ngapain kerjanya”. Pendapat ini mendapat sanggahan yang agak menyimpang. Bahwa jika semuanya harus atas persetujuan birokrasi kampus, maka hak mahasiswa untuk belajar demokrasi hilang. (more…)

 

Kamar Pesakitan

inilah benang yang disajikan pada kita

sepret kentut sepegal mesra selarit komedi  segaruk gatal

semampat pengap sedebu abu yang

merumbai

 

Menghidupi Masa Lalu I

Bese dan anaknya mati. Berita basi. Tapi emang ini ditulis pas lagi marak2nya Bese alm. masuk tipi. Pas hari itu juga aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kebaikan seorang teman. Dia hanya buruh pabrik suatu perusahaan konveksi dengan gaji tak lebih dari setengah juta sebulan. Bapknya nganggur. Masnya hanya menjadi tukang sapu di kantor polisi dengan bonus perlakuan sangat tak menyenangkan. Ibunya membuat tempe. Adiknya masih sekolah. Keluarga kecil yang sesungguhnya. Dengan postur tubuh yang ceking. Bias bayangkan seseorang dengan tinggi 155 bertanya berkisar antara 30-35 Kg, tergantung kondisi kesehatannya. Rumahnya? Ngga akan nyanga dengan keadaan seperti itu dia bisa beramal kepada banyak teman yang ‘membutuhkan’. Setiap minggu gajian,, pulsa sepuluhribu dari semua operator dia kirim ke teman2nya seindonesia raya. Setiap Sabtu. Saran saya, janganlah kalian melihat rumahnya, sebab nanti akan timbu iba yang sangat. Cagaknya yang menghitam termakan masa keliahatan ringkih, wuwungannya rendah. Kusam. Tapi hati keluarga ini benar2 luar biasa mulia. Meski hanya pulsa. Seandainya tetangga Bese ada yang serupa tiwi, sahabat saya ini, maka alm. tidak akan setenar ini usai meninggal, sebab konon, daerah Bese adalah daerah lumbung padi. Apa lagi pemerintah mau seroyal tiwi, ngga ada yang kelaparan, harga2 ngga bakal naik, pendidikan gratis..tis..tisss

« Previous PageNext Page »