DEMO ITU UNTUK MENGINGATKAN
Momentum seabad kebangkitan nasional seharusnya bukan untuk sekedar dirayakan dan atau diperingati, tapi direnungi. nilai-nilai tentang kesejahteraan dan keadilan harus diterapkan, bukan dikaji.bagi yang lupa, mahasiswa dengan upayanya berusaha mengingatkan pelajaran berharga ini. Jika tidak, berarti nilai sejarah kita merah
2008. 100 tahun kebangkitan nasional, 100 tahun sumpah pemuda, 100 tahun lahirnya sastrawan dan budayawan bangsa Sutan Takdir Alisjahbana dengan polemiknya, 10 tahun reformasi yang mengorbankan darah dan air mata, bangkitnya dunia pebulutangkisan putri setelah 10 tahun koma dan entah hari apa lagi sehingga menjadikan 2008 hari istimewa bagi bangsa besar ini.
Tapi nampaknya semua peringatan tarih itu hanya merupakan ritual sia-sia tak bermakna di mata rakyat kecil yang kian tercekik dengan kebijakan yang tak kunjung bijak dan berpihak pada rakyat; amandemen pasal 33, UU Migas, UU ketenagakerjaan, impor beras dan penarikan subsidi beberapa bahan pokok. Mungkin sedikit dari rakyat paham bahwa penderitaan itu dampak dari kesepakatan bapak-bapak bangsa. (more…)
Ceracau sunyi senja hari
setelah mengokang mimpi
aku wudlu dipancuran sepi
kugelar sajadah di bawah senja
makmum pada segala semak yang ada tanpa mengapa
kurapal putus asa lewat igauan doa
lalu kutengadahkan tangan dan hatiku
setelah sebelumnya
menyambangi palung paling pilu dari bumi
dan meracau salam pada rakib atid
Gusti, aku butuh api
tak perlu abadi
agar bisa kubakar nasi
untuk membaca hari yang tak selalu rapi
malam ini
; sepi.
aku hanya ingin menceritakan hari
dengan jempol yang tak begitu lincah menari dia atas tuts komputer
dengan doa yang kaku terlafalkan
dan secarik mimpi yang terabai
kemudian
kuketuk alamat jenak
dengan sisa kata yang tersia
tok tok tok; sepi.
Sajak Seorang Tua untuk Istrinya
W.S. Rendra
Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
dan juga masa depan kita yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan
Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita
karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
suka duka kita bukanlah istimewa
karena setiap orang mengalaminya
hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samudra
serta mencipta dan mengukir dunia
Kita menyandang tugas
karena tugas adalah tugas
bukannya demi surga atau neraka
tetapi demi kehormatan seorang manusia
karena sesungguhnya kita bukan debu
meski kita telah reot, tua renta dan kelabu
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapuskan
lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda
dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi dan juga nasib kita
Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara
bukan karena senyuman adalah satu kedok
tetapi karena senyuman adalah satu sikap
sikap kita untuk Tuhan,
manusia sesama, nasib dan kehidupan
Lihatlah sembilan puluh tahun penuh warna
kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma
kita menjadi goyah dan bongkok
karena usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan karena kita telah terkalahkan
Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
sementara kamu kenang encokmu
kenangkanlah pula bahwa kita ditantang seratus dewa
Saya mendengar rendra membacanya dan seketika itu mata kanan menitikkan setetes air mata. Hanya satu. Karena yang seribu telah saya cicil malam lalu. Ketika saya tidak bisa memberi senyum untuk senja. Ketika saya luar biasa lelah. Bahkan untuk bermimpi. (more…)
Tawa Itu Ada Tanpa Mengapa
Salah seorang kawan saya sedang berbahagia, sangat bahagia mungkin, mengingat anugrah yang Tuhan berikan empat sekaligus dalam satu waktu; uang, kemasyhuran, jabatan dan perempuan. Lalu minggu lalu ia mengadakan acara makan-makan, sejenis even berbagi kebahagian.
Ketika dipaparkan kebahagiaannya satu persatu, saya mendesah dan gelisah. Meski begitu saya tetap tertawa mengikuti irama pesta. (more…)