March 18, 2008
The last prayer’s of pretender
aku purapura tak keberatan kau diam
lantaran diam bukan sinonim bisu
ketakmampuan memverbakan segala atau sejenis phobia apa
tak ada apa-apa
menunggu jawaban kau bilang
tak ada pertanyaan kujawab
menanti yang tak datang kau geram
tersesat aku diam
aku purapura tak keberatan kau diam
sebab sejak awal mula akulah pencerita
darimu titik seringnya tanda tanya
atau senyap kadang kala
kupilih bedak termahal untuk senyap itu;
tertawa untuk sebuah ceruk luka
berpura-pura kau ada, mengudara, mengisi sebelah paruku
aku purapura tak keberatan kau diam
hingga hanya tersisa doa
pada tuhan yang merahimi
semoga ia tak lupa
pada episode ‘Tersesat di Langit Bersama’
aku tak keberatan kau diam
sekalipun mesti kukecap samudra putus asa dengan rasa amnesia
sekalipun aku tak bisa berpurapura untuk kehilangan
siapapun lagi
March 19, 2008 at 6:57 am
“aku purapura tak keberatan kau diam”
Intinya keberatankan?
bangetts!!! berapa lapis? ratusan? lebiBBhiHH!!!
March 19, 2008 at 7:27 am
“Lebih baik saya tersesat di jalan kebenaran, daripada merasa benar di jalan kesesatan” (Zawawi Imron)…
gimana..? lam knal…
sepakat. tapi kalo kasusnya ngga tau mana benar mana tersesat, jadinya kan trial and error? semoga allah paring pituduh aja deh kayake
lam kenla juga,pak.
March 19, 2008 at 4:28 pm
aku purapura tak keberatan kau diam
lantaran diam bukan sinonim bisu
……..ah, aku suka ini…
March 21, 2008 at 7:38 am
Diam kondisi ternyaman!
March 22, 2008 at 11:42 pm
…bagus Fay…
ngga akan pergi kok..
free and freak, aja deh
March 23, 2008 at 9:56 am
Diam berarti ga koment donk..
wadhuh, sang prabu ngajak guyon ki…
March 24, 2008 at 6:27 am
q teringat kisah ’si anak merah’
dlm kesendirian, termenung sdepi tetap di jaga dengan senyuman dan canda kawan-kawan.
dengan kepandaian bersilat lidah dan silat tenanan (kungfu gitu..) dia bisa melumpuhkan musuh2nya bahkan Tuhan (red;DeWa). tanpa endih2 cukup satu kecapan, lumpuh luluh lantah bak padang pasir film alat2 cinta(eh ayat2 cint).waduh puyeng nie… intinya:
Siiiiipppp…..!!???
ane juga pusing,bang…
March 24, 2008 at 10:49 am
Hus…panggil pak, kliatan jadi tua neh….q khan baru lulus kemarin (november 2007) kok dipanggil pak….panggil selain itu aja (asal gak dik, kek, mbah etc).
Saya selalu bingung ketika ditanya isu pendidikan terkini, pun ketika adik2 kelas saya di FIP Unnes bahkan dosen yang deket sm saya bertanya serupa, karena mereka mengira setelah saya ke Jakarta kemudian tahu isu terkini pendidikan hehehee… (ketipu mereka..)
Karena bagi saya, semua masalah pendidikan yang belum selesai adalah isu terkini yang mesti diselesaikan, iya gak. Mungkinya yang dimaksud “isu terkini” adalah yang legi “nge in” lagi “booming” atau dipolitisasi media dan pemerintah menjadi seakan-akan “aktual” itu ya….saya bias soal itu, buram, ndak jelas, mungkin soal privatisasi pendidikan, BHP, liberalisasi pendidikan…. karena lg merencanakan konferensi soal itu sech buwat Agustus ntar.
Eh…Fay anak tabiyah IAIN ya? Klo iya…saya mohon contact person anak-anak pers mahasiswanya, klo gak salah Edkuasi ya? OK….
March 24, 2008 at 12:10 pm
nih blog tmenku dari LPM Kreativa FBS UNY
March 25, 2008 at 11:08 am
aku pura2 g ngerti
March 28, 2008 at 8:33 am
Lagilagi puisi dengan perumpamaan yang menarik… Dari pengalaman pribadi-kah?
March 28, 2008 at 9:01 am
ko pertanyaanku blon dibales????/
minta email anak-anak tarbiyah IAIN WS yang di LPM Edukasi dunk!
dibutuhkan sama seseorang nie…
April 1, 2008 at 3:31 am
Mr. rivai yang baik dan menarik, komen-nya tapi, hehehe… pada dasarnya saya ini penganut empirisme yang ngga gitu2 banget. tapi untuk yang satu ini emang empiris yang imajiner.
pak edi, maaf, saya ngga baca. haqqul yaqin! untuk masalah contact person itu gampang. saya kirim di yahoo chat ato e mail aja. emang bener namanya edukasi
May 15, 2008 at 5:13 am
hi, trims sudah mampir blog-ku. ngomentarin soal komentarmu:
ya itu kita bisa posting format puisi dari MS word. tapi kadang masalahnya, format microsoft word (seperti jenis huruf - biasanya Times New Romans; ukuran font, dll) ikut masuk ke WordPress. Kalau maunya seperti itu jadi enggak masalah. Tapi kalo mau tetap konsisten dengan desain posting blogmu (biasanya jarang yang pake Times New Romans, misalnya), mau nggak mau harus bersihin juga format ini di halaman HTML.
Sebagai contoh, mungkin blog-mu ini. Setiap artikel berbeda font-nya. nggak masalah sih kalau memang maunya begitu. Tapi kadang, kalau tidak cukup hati2, bisa mempengaruhi sidebar segala (ketika aku berkunjung ke blogmu, sidebar jadi italik, ngikutin salah satu postingmu, padahal di halaman page, nggak).
ya nggak papa toh? kecuali kalo ada teori bahsa baru yang blang kalo bahasa memasukkan unsur font setelah graph. ^_^